Kabarkite.com, Bengkulu – Kisah pilu sekaligus penuh perjuangan datang dari seorang Asisten Rumah Tangga (ART) asal Muratara, Refin, yang mendadak menjadi sorotan publik. Namanya mencuat setelah terseret dalam persoalan hukum yang diduga melibatkan oknum di lingkungan DPRD Bengkulu.
Peristiwa ini bermula pada Agustus 2025. Saat itu, Refin yang bekerja sebagai ART di rumah seorang anggota DPRD Bengkulu disebut-sebut mengalami tekanan dalam pekerjaannya. Di tengah situasi tersebut, Refin memutuskan meninggalkan tempat kerja.
Namun kepergiannya justru memicu persoalan baru. Ia dituduh membawa atau mencuri uang milik majikannya. Tuduhan itu kemudian berkembang dan berujung pada laporan hukum.
Tak lama berselang, Refin kembali dilaporkan—kali ini atas dugaan penganiayaan ringan, terkait insiden yang disebut-sebut terjadi saat ia mencubit anak majikannya. Laporan tersebut menjadi pintu masuk proses hukum yang akhirnya menjerat Refin hingga harus berhadapan dengan aparat penegak hukum dan mendekam di balik jeruji.
Kasus ini pun dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan publik. Banyak pihak mempertanyakan proporsionalitas penanganan perkara, mengingat posisi Refin sebagai pekerja rumah tangga yang berada dalam relasi kuasa yang tidak seimbang.
Perjuangan dan Dukungan Di tengah tekanan dan ketidakpastian, Refin tak sendiri. Sosok SN Prana Putra Sohe hadir mengawal jalannya kasus, berdiri di garis depan bersama Bang Omen, advokat sekaligus praktisi hukum.
Perjuangan panjang pun tak terhindarkan melewati proses hukum yang berliku hingga akhirnya berujung pada satu titik terang kebebasan, namun kisah ini lebih dari sekadar perkara hukum. Ini adalah cerita tentang keberanian. Tentang seorang ibu yang tak menyerah meski dihimpit keadaan. Tentang suara kecil yang berani melawan ketidakadilan.
Gelombang dukungan masyarakat pun terus mengalir. Dari media sosial hingga ruang-ruang diskusi publik, nama Refin menjadi simbol perlawanan, sementara kisahnya menjelma menjadi energi kolektif yang menggugah nurani.
Di sisi lain, nama SN Prana Putra Sohe anggota DPR-RI komisi XIII kian bersinar. Ia dipandang sebagai figur yang tak sekadar hadir, tetapi berdiri dan bertindak saat rakyat membutuhkan keberpihakan.
Kini, kasus ini juga menjadi perhatian luas, termasuk dipantau oleh lembaga legislatif, mempertegas bahwa perkara ini bukan sekadar kasus individu, melainkan cerminan isu keadilan sosial yang lebih besar.
Kisah ini menyisakan satu pesan kuat, keadilan mungkin tidak datang dengan mudah—tapi selama masih ada yang berjuang, harapan itu tetap hidup. (AL)
