Disinyalir Dana Pencegahan Gizi Buruk Tidak Terealisasi

by -587 Views
by

foto : ilustrasi suku kubu

*Kepala Suku Kubu Tak Paham Program NICE

Kabarkite.com-Musirawas (23/10), Ternyata bukan hanya sekedar pada bagian kecamatan Muara Lakitan saja program NICE Project dilaksanakan tanpa sesuai dengan peruntukannya, kondisi lebih parah diluar dugaan ternyata terjadi didesa sungai jernih kecamatan Rupit atau yang saat ini disebut kabupaten Muratara setelah disahkan menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB). didesa itu kucuran dana NICE selama dua tahun sejak 2010 dan 2012 dengan nominal terbilang sangat besar mencapai Rp.145 juta perdesa yang tersalurakan bagi 116 desa dikabupaten Musirawas (Mura) hingga total mencapai Rp.17,2 Milyar lebih, ternyata sia-sia saja dan tidak bermanfaat bagi masyarakat karena sejak awal ditetapkannya NICE Project masuk desa itu hingga kini bentuk nyata Realisasi pelaksanaan tersebut sama sekali tidak dirasakan oleh warga.

Faktanya kucuran dana dari pemerintah pusat, dengan hasil anggaran biaya dari pengajuan pinjaman melalui pihak ADB atau bank Asian Luar Negeri, sama sekali tidak dikerjakan secara maksimal oleh pihak-pihak terkait bahkan terkesan dαņ kuat dugaan hanya dijadikan ajang kesempatan oleh pihak konsultan dinas kesehatan dan para Kelompok Gizi Masyarakat (KGM) diratusan desa atau pihak pelaksana yang menerima uang tersebut dan tidak menutup kemungkinan kuat dugaan dana tersebut hanya diperuntukan untuk mengurusi kepentingan pribadi mereka, disini sangat terlihat kondisinya jauh terbalik dengan harapan daņ niat pemerintah pusat demi mengentaskan kehidupan masyarakat yang tidak mampu agar tidak mengalami penderitaan karena kondisi asupan gizi yang kurang. adanya anggaran dana tersebut sesuai petunjuk dari Depkeu RI jelas sekali bahwa dengan anggaran dana yang ada disetiap desa pihak KGM daņ petugas yang ditunjuk dapat melakukan sosialisasi serta pembinaan secara rutin demi tercapainya meningkatkan kesadaran masyarakat agar paham serta bisa menjadi masyarakat yang mandiri, untuk menerapkan kehidupan lebih baik agar dapat meningkatkan asupan gizi mereka hingga tanpa harus selalu dibina sama sekali tidak tercapai sesuai dengan harapan.

Berdasarkan pantauan Wartawan didesa Sungai jernih dirompok para masyarakat primitif atau yang biasa disebut masyarakat umum di Sumsel  (kubu), sungguh-sungguh sangat diluar dugaan program untuk peningkatan Gizi ibu hamil,balita,bayi serta peningkatan sara sanitasi, dengan tujuan akhir bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk dapat meningkatkan gizi secara mandiri. sama sekali hanyalah omong kosong belaka karena realisasi dari dana sebesar Rp.145juta yang diterima kelompok desa itu secara tiga tahap dengan waktu dua tahun tersebut, sama sekali tidak dilaksanakan didesa sungai jernih, yang tampak pada rompok atau tempat tinggal masyarakat tersebut hanyalah terpampang sebuah papan plang merek yang letakan dirumah kepala suku dari komunitas adat terpencil tersebut.

Sadiman selaku kepala suku yang dijumpai saat berbincang-bincang ditanyai mengenai papan merek NICE bisa berada tertempel di kediamannya, sama sekali tidak tahu apa-apa bahkan diutarakannya sejek merek tersebut diletakan dirumahnya hingga hari ini tidak ada kegiatan apapun yang dilakukan pihak desanya. 
” Kami tidak tahu pak pihak pemdes yang tarok itu ditempat saya ada satu kali pihak kesehatan namun kita tidak begitu tahu dari dinas atau dari mana namun hanya sekedar melakukan pendataan tetapi hingga kini tak ada lagi kelanjutannya,” tutur laki-laki paru baya itu dengan gamblang.

Sangking tidak memahami Tentang NICE sang kepala suku malah meminta kepada awak media untuk menyampaikan kepada pihak terkait untuk menjalankan program tersebut.
“Kami baru tahu pak mentempelan merek itu ado dananyo,kalau memang ado tolong sampaikan samo wong itu bahwa warga disini perlu perhatian biarkan mereka melihat sendiri kondisi kami disini,” pintanya.

Zazili salah satu toko pemuda terbilang cukup aktif diwilayah rupit daņ sekitarnya yang menghantarkan para jurnalist kedesa tersebut, menyatakan bahwa itulah kondisi sebenarnya yang terjadi disungai jernih selain mereka berada hapir dipenghujung desa dan  kondisi mereka memang jauh dari perhatian pemerintah.
“bisa kalian lihat sendiri kondisi rumah yang mereka tempati reot dan kecil bahkan maaf bukan mengupat atau menjelek-jelekan namun itulah fakta yang bila satu KK 4 orang suami istri dengan dua keturunan ya masih pantas la ditempati, kalau saat ini puluhan orang berada disitu saya rasa pemerintah harus mengambil insiatif baik untuk urusi masyarakatnya.
“Alangkah baiknya walaupun kondisi semi permanen pemerintah kabupaten diharapkan dapat mengucurkan dana yang memang hak mereka tepat sasaran daņ memang disampaikan langsung jangan menggunakan perantara oknum-oknum nakal yang tega menggunakan uang tersebut bukan untuk peruntukannya,” Kata Zazili.

Dirinya tidak mengetahui siapa sebenarnya salah apakah pihak kelompok atau konsultan yang kinerjanya kurang proaktif, melakukan pembinaan rutin sekaligius sosialisasi.
“Bila memang pada kenyataannya kegiatan tersebut kurang baik atau ada penyimpangan sebagai warga republik ini, saya minta instansi terkait untuk melakukan pemeriksaan atau audit langsung ke lokasi dan secara ADM,” Tegasnya. (Rutan)