Harimau Sumatera Hewan Beradat (11)

by -59 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (11)

Penulis : RD Kedum

 

Kota kecil Pagaralam kembali diguyur hujan, terutama malam hari. Tidak heran di mana-mana terlihat becek dan air menggenang di jalan yang berlubang. Ini bukan pemandangan baru. Tapi bertahun-tahun kami rasakan tanpa ada perubahan. Meski Pagaralam kota kecil penghasil bumi terbesar di Sumatera Selatan, terutama kopinya, tetap saja pembangunan dan perkembangan kota terasa lamban. Bangunan-bangunan tua, pasar tradisional yang kumuh, jalan kecil yang padat pedagang , kendaraan roda empat, becak, berjejal jadi satu. Bukan pemandangan baru jika melihat kemacetan, di jalan menuju indra Giri dan Pasar Baru, lalu jalan menuju Talang Kecepit dan Talang Jeruk, pedagang-pedagang kecil tumpah sampai ke badan jalan. Belum lagi angkot yang parkir di pinggir-pinggir jalan ada yang melintang, ada yang miring. Sepanjang jalan Lettu Hamid, Simpang Kemuning, Pasar Lame pun memghadirkan pemandangan yang sama. Nyaris setiap hari kendaraan yang datang dari berbagai dusun sekitaran kota membuat jalanan macet, bahkan tidak bisa bergerak sama sekali.

Pagi ini aku sudah berjanji menemanin nenek Kam untuk jalan-jalan ke pasar Proyek, pusat pasar tradisional satu-satunya dan paling ramai di kotaku menjual berbagai macam sayur mayor, buah, ikan, daging, ayam, bahkan tokoh baju dan kelontongan pun numpuk di pasar yang sama.

Karena jalanan becek, Nenek Kam sengaja aku pinjami sepatu boot yang biasa kupakai ke sekolah. Untung kaki Nenek Kam kecil, sehingga tidak ada masalah ketika beliau memakai sepatuku. Bapak membekali Nenek Kam uang beberapa lembar. Siapa tahu ada yang kepingin beliau beli.

“Nenek mau beli apa?” Tanyaku sembari membibing tangannya.
“Kita lihat saja, kalau ada yang selera kita beli” Ujarnya memperlihatkan uang yang digenggamnya. Sesekali aku melompat kecil menghindari genangan air yang kotor. Tak urung cipratan sepatu memercikkan lumpur mengenai kain sarung nenek Kam.

Baru saja mengijakkan kaki di pelataran pasar proyek, banyak sekali orang yang menegur nenek Kam dan menyalaminya. Mereka rata-rata para emak yang berjualan di pinggir-pinggir jalan. Ada yang berjualan bubuk kopi dengan berbagai macam kualitas yang mereka sebut kelas. Ada bubuk kopi kelas satu, yaitu kopi asli tanpa campuran, selanjutnya bubuk kopi kelas dua yaitu jenis bubuk kopi yang dicampur dengan kerak atau jagung. Ada juga yang menjual lemang dan tapai, menjual sayur-mayur, bahkan ada juga yang berprofesi sebagai tukang jaking . Lari sana-lari sini mengejar kendaraan yang baru saja hendak parkir.

Perempuan dan laki-laki tukang jaking rata-rata lincah melompat ke atas angdes yang berjalan lalu memegang karung, kinjagh dan lain sebagainya milik para petani yang hendak menjual hasil kebunnya.

Tidak jarang tukang jaking itu berebut mengakui sudah sepakat membeli barang orang dan ribut antar mereka. Padahal harga belum mereka tetapkan. Sementara yang punya barang tidak bisa bergerak karena dipepet tukang jaking yang rata-rata kasar dan perayu ulung bahkan memaksa agar petani menjual hasil bumi kepadanya. Ternyata tidak sedikit di antara mereka yang menegur Nenek Kam dan menyalaminya.

“Nek, kok mereka semua kenal dengan Nenek?” Tanyaku agak risih karena semua meraih tangan Nenek Kam untuk bersalaman. Sementara aku dicuekan. Di atara orang yang berjejal hendak menyalami Nenek Kam, aku melihat seseorang dengan lincah menyelipkan jari hendak mengambil uang Nenek Kam. Sementara Nenek Kam masih asyik melayani dan menegur orang-orang yang menyapanya. Dengan sigap, tanganku mengembang dan mencakar punggung tangan jahil itu.

Tak urung orang tersebut menjerit. Ada empat goresan memanjang cukup dalam dan mengeluarkan darah. Aku sendiri kaget, mengapa tiba-tiba jari-jariku berubah seperti tangan nenek gunung, berkuku tajam dan berbulu. Lelaki itu menatapku marah. Tangan kanannya disembunyikannya di balik bajunya yang berwarna hitam tebal.

Demi menatap wajah beringasnya, aku pun tak kalah tajam menatapnya. Aku merasakan wajahku menyeringai seperti harimau lapar mendekat pada lelaki yang hendak mengambil uang Nenek Kam. Lelaki itu ketakutanan dan lari secepat kilat. Nenek Kam meraih tanganku, melarang aku mengejarnya.

“Diam Selasih, jangan terpancing” Ujar Nenek Kam. Keningku berkerut. Mengapa Nenek Kam menyebutku Selasih?. Kutatap wajah Nenek Kam untuk memastikan beliau sedang berbicara dengan siapa. Oh, matanya lekat menatapku. Jadi nenek Kam sedang berbicara padaku? Akhirnya aku diam saja. Aku menatap kedua tanganku. Tidak ada yang berubah. Jari-jariku utuh. Aku hanya sekilas melihat tanganku seperti berbulu. Kuusap wajahku. Pun tidak ada yang berubah. Biasa saja.

“Nek Kam! Nek!” Teriak seorang perempuan setengah baya. Langkahnya sedikit menjijit menghindarkan cipratan tanah lumpur jalalan.

“Apa kabar Nek? Sehat? Yaa Allah tidak menyangka akan bertemu dengan Nenek Kam di pasar ini. Sudah lama di sini Nek? Nenek nginap di rumah siapa?”

Perempuan itu berkali-kali mencium tangan nenek Kam dengan mata sedikit berair. Nampak sekali beliau sangat menghormati Nenek Kam.

“Alhamdulilah sehat. Saya tinggal di rumah Hasan, sudah tiga hari. Kamu berjualan?” Tanya Nenek balas bertanya, yang dijawab perempuan itu dengan anggukan.

“O rumah Mang Hasan, tokeh kopi itu? Di simpang empat itu kan Nek? Ya aku tahu. Nanti malam aku dan suamiku akan main ke sana, Nek. Sambil membawa Rani” Ujarnya dengan wajah sumringah. Dalam hati aku bertanya-tanya. Mengapa perempuan satu ini begitu antusias untuk main ke rumah kami? Tidak seperti perempuan-perempuan lainnya, usai bersalaman dan basa-basi bertanya tentang kesehatan Nenek Kam, mereka kembali melanjutkan aktivitas menawarkan dagangan pada setiap orang yang melintas di hadapannya.

“Kok banyak sekali orang yang kenal Nenek di pasar ini” Tanyaku sedikit heran.
“Iya kenallah. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari seberang Endikat yang mengadu nasib di Kota kecil ini. Rata-rata mereka adalah kerabat kita. Masih ada hubungan keluarga semuanya” Ujar Nenek Kam yang kusambut dengan anggukan. Wajar kalau mereka semua kenal, ternyata mereka family dari seberang Endikat.

Aku dan Nenek Kam masuk ke dalam pasar lebih dalam. Sebelumnya aku tidak pernah masuk ke dalam pasar ke arah pedagang ayam, pedagang kambing, dan pedagang daging. Aroma tidak sedap bercampur baur membuatku sedikit menutup hidung. Sebenarnya aku hendak bertanya dengan Nenek Kam, mengapa sampai masuk-masuk ke dalam pasar yang bau seperti ini. Apakah Nenek mau membeli daging ayam? Ternyata tidak.

Nenek malah menuntunku ke pasar lebih dalam. Aku sedikit tertegun melihat kepala sapi dengan mata melotot di gantung sedemikian rupa. Begitu juga paha, kaki, dan daging berjuntai-juntai sepanjang lorong pasar. Beberapa orang menyapa menawarkan daging jualannya.

“Nak cakagh tuape Nek, Nak dalaman ape nak daging lunak? (Mencari apa Nek, mau nyari jeroan apa daging super)” Sapa seorang lelaki berbadan tambur. Di tangannya memegang pisau mengkilap. Tampaknya sangat tajam siap mengiris-ngiris daging dan menimbangnya. Nenek berhenti persis di hadapannya. Aku mengira Nenek Kam akan membeli daging.

“Mau daging apa Nek, ini daging sapi, yang ini daging kerbau. Semuanyan baru disembelih dini hari tadi. Daging kita bagus dan sehat, Nek. Terjamin bersih dan bebas dari penyakit” Sambungnya sedikit berlebihan.

“Aku mau daging yang kamu simpan di karung itu” Ujar Nenek singkat. Lelaki tambun nampak agak terkejut. Aku pun juga heran mengapa Nenek minta daging yang di simpan di karung?

“Iya, keluarkan karung itu” Ujar nenek sekali lagi. Tidak lama aku melihat beberapa orang berkerumun di belakang Nenek. Ada yang perempuan ada juga lelaki setengah baya. Semuanya sama menatap tukang daging yang tambun dengan ekspresi agak marah.

‘Maaf Nek, maksud Nenek apa? Inilah daging yang saya jual. Sudah digantung semuanya. Nenek tinggal pilih mau daging sapi apa mau daging kerbau?” Wajahnya rada-rada bodoh.

“Saya tidak tertarik dengan daging sapi dan kerbau yang kamu gantung. Tapi saya butuh daging yang kamu simpan di karung itu!” Kali ini suara nenek Kam agak tegas.

”Jangan berkelit lagi. Aku tahu apa yang kamu simpan di karung itu” Sambung Nenek Kam kembali. Aku pun bertanya-tanya dalam hati. Memangnya daging apa yang dijual oleh bapak bertubuh tambun ini? Mengapa tiba-tiba wajahnya jadi pucat. Namun beliau masih saja menghindar mengatakan tidak punya daging selain yang di atas meja dan digantungnya. Ternyata ucapan nenek Kam menarik beberapa pedagang dan pembeli. Mereka kompak memandang dan menghampiri pedangang yang bertubuh tambur itu.

“Oi, Nek. Ngape sangkah kamu makse-makse jeme? (Oi, Nek. Mengapa Nenek memaksa-maksa orang?)” Ujar pedagang daging sebelah si Bapak Tambun. Nampa beliau sedikit membela kawan seprofesianya.

“Lagian suka-suka orang menyimpan daging, menjualnya apa tidak. Kalau mau beli, ya beli. Kalau enggak jangan nyari-nyari masalah. Hei anak kecil, ajak nenekmu pulang sana. Jangan dibawa ke pasar kalau hanya mencari ribut. Kami di sini berjualan” Lelaki lain lagi mulai berani menghardik dan memandangku dengan mata marah. Aku langsung melompat di antara orang yang mulai berkerumun. Kutatap wajah lelaki kasar itu dengan tajam. Aku melihatnya beberapa langkah mundur ke belakang. Aku terus menghampirinya. Aku tidak suka dengan sikapnya. Ingin rasanya aku menerkam dan mencabik-cabik wajahnya yang jelek itu.

Langkahku terhenti ketika sepasang tangan halus meraih pundakku. Batinku menangkap beliau memintaku untuk sabar dan jangan buat keributan lebih parah. Akhirnya aku diam dan kembali mundur menghampiri Nenek.
Satu-satu kusapu wajah yang berkerumun. Hmm batinku melihat ada sembilan orang jadi-jadian hadir di sini. Empat orang perempuan dan lima orang laki-laki. Semuanya berdiri di belakang Nenek Kam dengan pakaian perempuan kampung pada umumnya. Kebaya kurung dan kain sarung batik. Yang lelaki mirip seperti pendekar. Berbaju kaos oblong, celana sebatas betis dengan kain sarung yang diikat di pinggang. Ketika aku melihat ke bawah, semuanya tidak ada yang menggunakan alas kaki. Dalam hati aku berkata, Mereka pasti kawan-kawan Nenek Kam. Tapi aku tidak melihat si Kumbang hadir di sini. Baru saja aku berpikir demikian, mataku terpanah ketika melihat di atas pohon akasia yang miring, bertengger Si Kumbang sambil menguap panjang berkali-kali.

“Kamu tidak perlu berbohong padaku, aku tahu apa yang kamu simpan di karung itu” Ujar Nenek menujuk pas ke hidung lelaki tambun.

“Daging kaput tini Nek, pesanan Cine di pasarni (ini daging babi Nek, pesanan Cina yang ada di pasar ini” Ujarnya berusaha melindungi karung dengan kakinya.

“Baik, kalau kamu tidak mau memberikan karung itu, jagan marah, akan kuobrak- abrik seisi pasar daging ini. Dan kau siap mati di tanganku” Suara Nenek Kam tegas. Siapa yang menyangka perempuan kurus dan tua ini mampu berdiri tegap mengangkat lengan baju dan mengeratkan ikatan kainnya. Aku sedikit mundur melihat gerakan nenek Kam.

“Brak!! Barak!” Suara keras mengagetkanku. Ternyata Nenek Kam menendang tiang penyanggah atap pedagang hingga patah. Dalam sekejap atap berubah miring. Lelaki tambun makin pucat. Tidak ada yang menyangka nenek Kam sekuat itu. Beberapa daging yang tergantung jatuh di jalan yang berlumpur. Nenek Kam masih memasang kuda-kuda siap melakukan serangan berikutnya.

Beberapa orang lelaki hendak memegang nenek Kam, ditepisnya hingga terbanting. Mulailah mereka terperangah menyadari jika yang dihadapan mereka bukan orang biasa-biasa saja. Aku ikut berjaga-jaga. Jika ada yang hendak menyerang Nenek Kam, aku berharap tanganku berubah menjadi cakar nenek gunung. Akan kucakar mereka yang rata-rata kasar dan tidak beretika ini.

Pasar daging makin padat. Dalam sekejab kerumunan seperti semut menghampiri gula. Semua ingin melihat dan ingin mengetahui apa yang terjadi.
Aku menatap ekspresi nenek Kam sudah sangat berubah. Matanya menjadi tajam dan liar. Aku yakin satu gerakkan lagi, kedai daging ini akan hancur berkeping-keping. Sang lelaki tambun mulai ketakutan. Parang tajam di tangannya terlepas dan jatuh persis di kakinya. Sambil mengangkat kedua tangan pertanda menyerah, lelaki tambun mepet ke dinding yang sudah miring hingga terduduk.

“Ampun, ampun Nek. Au ambeklah karung itu, isinya mimang bukan daging kaput. Daging setue. Titipan jeme titu Nek, Aku diantati jeme sandi Bengkulu. Katenye pesanan Cine di Pagaralam ngah di lahat. Ampun Nek aku dek besalah (Ampun, ampun Nek. Benar, ambilah karung itu.Isinya memang bukan daging babi, tapi daging setue , Titipan orang ini, Nek. Orang nitip dari Bengkulu pesana Cina dari pagaralam dan Lahat. Ampun Nek, aku tidak bersalah)” Lelaki tambun menyeret karung ke luar kedai dengan tangan dan kaki gemetar.

Dengan sigap beberapa orang yang berdiri di belakang Nenek Kam menyambar karung tanpa berkata-kata. Selanjutnya Sembilan orang yang kulihat diam dari tadi itu melangkah cepat sembari menyingkirkan kerumunan yang berjejal. Seperti dengungan ribuan lebah, orang-orang mulai berkomentar dengan persepsi mereka masing-masing.

“Oo pantas, lanang ini menjual daging setue. Nak nyari balak (o pantas, lelaki ini menjual daging nenek gunung, memang menyari bala)” Ujar lelaki tua yang turut menyaksikan kemarahan nenek Kam. Mulailah aku paham mengapa nenek Kam mengajakku ke pasar pagi ini. Rupanya penciumannya tajam bukan main. Selintas mataku mengekor pada sembilan orang yang membawa pergi karung itu. Tiba-tiba tubuh mereka hilang entah kemana.

“Dengar, sekali lagi kalian berani memperjualbelikan daging setue, tidak saja pasar ini akan kubarak-abrik, tapi kalaian akan kucabik-cabik! Sampai ke anak cucu kalian” Lalu “Gubrak!!!” tangan nenek Kam memukul meja hingga belah dua.

Aku terkagum melihatnya. Tangan Nenek Kam seperti besi. Sekali hantaman meja berpapan tebal itu terbelah dua. Usai menghantam meja dan semua mata terbelalak melihatnya, dengan cepat nenek Kam menarik tanganku. Sebelum berjalan cepat aku sempat menjoged-jogedkan pantat dan memelet-meletkan lidah mengejek bapak bertubuh tambun itu.

Hanya dalam hitungan menit, aku dan nenek Kam sudah sampai di rumah. Nenek Kam mengedipkan mata agar aku tidak bercerita tentang kejadian pagi ini. Aku tersenyum kecil sembari mengangkat bahu tanda setuju.

Bersambung…..