Harimau Sumatera Hewan Beradat (12)

by -147 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (12)

Penulis : RD Kedum

 

Tidak perlu menunggu lama, perihal kejadian di pasar tradisional Proyek Pagaralam menjadi buah bibir se-kota. Bahkan sampai pula ke kecamatan tetangga dan ibu kota kabupaten Lahat. Nenek Kam menjadi buah bibir sebagai perempuan tua yang sakti, perempuan harimau, perempuan damai, dukun besar, dan lain sebagainya. Tak sedikit yang mencari keberadaan Nenek Kam demi sekadar ingin mengenalnya, atau sekalian hendak berobat padanya.

Gudang kopi sekaligus kantor Bapakku semula hanya ramai dengan orang yang bekerja memuat, menyutir kopi, menampi, dan menampung biji kopi, sekarang berjejal pula orang yang datang menanyakan Nenek Kam. Otomatis kejadian di Pasar Proyek sampai juga ke telinga Bapak dan ibuku.

“Apa yang terjadi di pasar tadi pagi, Nek?” Tanya Bapak setelah banyak orang yang datang ingin bertemu dengan Nenek Kam.

“Biasa, namanya juga di pasar, jadi segala macam kejadian ada, San” Ujar Nenek Kam.

“Kabarnya Nenek menghantam tukang daging? Merusak tempat jualannya. Bagaimana kalau dia mengadu ke Polisi? Apa Nenek tidak takut dipenjara? Lagi pula apa pasalnya sampai menghancurkan tempat jualan penjual daging, Nek. Nenek tahu, rata-rata penjual daging itu gerantangan! Jangan cari masalah. Untung Nenek tidak dikapaknya .” Nada Bapak agak menyesalkan. Nenek Kam hanya tertawa melihat Bapak berbicara panjang lebar.

“Hmm…Kalau Polisi menangkap saya, akan saya bongkar habis kenakalan di pasar itu. Kamu tidak tahu persoalan, San. Tukang daging itu diam-diam menjual daging setue jabalan dari Bukit Bengkulu. Meski setue jabalan, bukan berarti seenaknya saja manusia menjerat dan membunuhnya. Dia punya hak untuk hidup bebas selagi tidak mengganggu kehidupan manusia. Kamu tahu, San? Beberapa polisi itu terlibat, dia tahu perihal penjualan daging setue itu. Tapi karena disumpal dengan uang, dia legalkan.” Demi mendengar itu Bapakku terkejut bukan main. Meski nenek Kam tidak pernah bergaul dengan Polisi atau sejenisnya, namun Bapak percaya apa yang dikatakan Nenek Kam benar adanya.

Bapak jadi merinding. Untung nenek Kam hanya sekadar mematahkan tiang atap kedai dan mematahkan meja satu orang pedagang. Kalau dia mengamuk lalu mengobrak-abrik seisi pasar, bakal jadi urusan besar. Dapat dipastikan mereka akan menuntut ganti rugi dengan Bapak.

“Menjual daging setue?” Bapak meminta penegasan.
“Iya, daging setue. Semula dia bilang daging kaput, pesanan Cina Pagaralam dan Lahat. Dia tidak tahu, dalam jarak puluhan kilometer lebih, aku masih dapat mencium aroma daging kawanku itu” Sambung Nenek Kam kembali.

“Bagaimana ciri-ciri penjual dagingnya?” Sambung Bapak.
“Perawakannya gendut. Perutnya buncit, berkumis, agak putih. Rambutnya agak lurus dan keras. ” Ujarku menjelaskan.

“ Ada tato?” Sambung ayahku lagi.
“Iya, di lengannya ada tato bunga setangkai” Jelasku.

Demi mendengar itu, Bapak langsung bangkit dari tempat duduk menuju loket kantornya, lalu memutar tilpon, meminta sentral menghubungkannya ke Kompi Karang Dale. Tidak lama berselang, aku mendengar Bapak berbicara dengan komandan Kompi, anak angkatnya yang kerap kupanggil Kak Yudikat. Dari obrolan itu kuketahui, Bapak bercerita kalau di pasar daging Proyek ada pedagang nakal diam-diam menjual daging setue.

“Ini bahaya, Yudikat. Untung nenek gunung Dempu tidak turun gunung semua. Jika mereka marah, bisa hancur kota kecil kita ini” Ujar Bapak meyakinkan. Lalu aku mendengar Bapak bilang iya, iya berulang kali. Tidak berselang lama, hanya hitungan beberapa jam, aku melihat satu pleton tentara lengkap dengan senjata didampingi pejabat kecamatan berhenti di depan ruko Bapakku. Mereka berbicara sesaat. Bapak menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kejadian pagi tadi.

Melihat pasukan berpakaian loreng masuk ke dalam pasar dengan senjata lengkap, membuat beberapa pedagang tegang. Malah ada yang berlari ketakutan. Mungkin mereka mengira akan terjadi tembak-menembank seperti perang di film-film laga. Tidak sedikit yang menutup kedainya mendadak. Padahal waktu baru menunjukan tengah hari. Kak Yudikat dan pak Camat langsung masuk ke pasar daging. Rupanya beberapa anak muda berpakain putih bersih ikut masuk ke tengah pasar.

Pak Camat mengamati kedai yang rusak parah. Tanpa bertanya, beliau tahu siapa yang merusak kedai itu sampai patah mematah seperti ini. Cerita lengkap tentang Nenek Kam sudah sampai juga kepada beliau.

Pasukan loreng dengan sigap memeriksa pasar daging hingga ke tempat penyimpanan daging beku. Beberapa petugas memakai baju putih yang kuketahui adalah dokter hewan dibantu beberapa orang dari Dinas Kesehatan tak kalah cepatnya memeriksa daging-daging yang dijual. Baik yang dibekukan maupun yang masih segar. Dengan cermat mereka mendata daging untuk memastikan daging sapi, daging kerbau, atau ada daging hewan lainnya. Daging harimau misalnya.

Tidak berapa lama, pemerikasaan di pasar daging selesai. Tidak ditemukan daging lain selain daging sapi dan daging keebau. Aku melihat bapak penjual daging yang bertubuh tanbun digiring tentara masuk ke dalam mobil dinas TNI. Pasukan tentara mulai berkemas naik ke dalam mobil. Aku berniat hendak pulang mengiring di belakang Kak Yudikat dan bapak Camat.

Tiba-tiba hidungku mencium bau nenek gunung sangat dekat. Kusapu kerumunan orang yang nampak heran melihat banyak pasukan tentara tidak seperti biasanya.
Berulangkali kuamati, tapi aku tidak menemukan sosok nenek gunung di sini. Hidungku mengendus-endus. Aroma nenek gunung semakin jelas. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang lelaki bermata cipit berdiri di antara kerumunan, lalu turut melongokkan kepala ke dalam mobil TNI. Rupanya dia tengah mengamati lelaki tambun yang digiring tentara ke atas mobil.

Kugamit tangannya. Dia menoleh. Tanganku ditepisnya pertanda tidak suka digamit. Kuulangi sekali lagi. Kembali tangannya menepis. Bahkan kali ini lebih kasar setengah membalas menepuk. Rupanya dia mulai marah. Apalagi yang menggamitnya anak kecil. Tidak salah lagi. Dari tubuhnya aku mencium aroma daging dan darah nenek gunung. Bau anyir darah dan daging nenek gunung membuat aku ingin mencabik-cabik tubuhnya. Lelaki ini pasti pernah memakan daging nenek gunung, batinku.

Tapi aku tidak bisa memastikan apakah nenek gunung berasal dari rimba yang sama dengan yang di dalam karung lelaki tambun itu? Nenek gunung dari Bengkulu?. Aku tidak peduli. Nenek gunung darimana pun dia, bagiku dia adalah saudara. Tidak akan kubiarkan darah dan daging saudaraku itu bersemayam di tubuh manusia.

Aku mulai naik darah. Demi melihat mataku yang nanar seperti hendak menerkam, lelaki itu menjerit takut. Ternyata jeritannya memancing kak Yudikat yang masih memberi komando pada anak buahnya. Kak Yudikat langsung berlari dan mendekatiku.

“Adek, ada apa? Dek, ini kakak. Lihat sini..ini kakak Yudi. Tatap mata Kakak” Kak Yudikat meraih tubuhku. Kedua telapak tanganku sudah mengembang hendak mencakar. Dengan cepat kak Yudikat memeluk tubuhku dari depan. Lalu menutup wajahku dengan badannya yang kekar.

Aku berusaha untuk tidak memberontak. Aku khawatir akan melukai kak Yudikat. Kurasakan tubuhku bergetar hebat. Darahku serasa mendidih. Niat membunuh serasa sudah di ubun-ubun.
“Kak, di dalam tubuh lelaki ini ada daging dan darah nenek gunung. Aromanya menyengat. Aku harus mengambilnya!” Ujarku geram.

Degan gerakan ringan, kak Yudikat memerintahkan anak buahnya menangkap lelaki keturunan itu. Lalu menggiringnya ke atas mobil bersama tukang daging yang tambun. Akhirnya aku digendong Kak Yudikat sambil berjalan menuju rumah.

Sesekali kak Yudikat menatap wajahku. Sementara aku merasakan wajahku sudah kembali biasa. Sebenarnya aku ingin minta turun. Aku malu ditonton orang karena digendong seorang tentara. Apalagi yang menggendong adalah komandan Batalyon.

Dari atas gendongan aku melihat beberapa orang mengiring di belakang mobil dinas TNI yang membawa lelaki tambun dan lelaki keturunan. Perawakannya berbeda dengan orang suku Besemah pada umumnya. Beberapa orang di antara mereka memakai ikat kepala. Berbaju hitam semua dengan dada terbuka. Mereka seperti pendekar silat. Telapak kaki mereka lebar dan kekar. Cara berjalannya gagah sekali. Saking ramainya aku tak bisa menghitung berapa jumlah mereka.

Aku menepuk-nepuk pundak kak Yudikat.
“Kak, kok banyak orang yang pakai baju seragam hitam di belakang mobil dinas TNI itu?” Ujarku menunjuk ke arah mobil. Kak Yudikat berhenti sejenak, lalu menoleh.
“Pakai seragam apa? Kakak ngg ada melihat orang berpakaian seragam kecuali pasukan tentara” Ujarnya.

“Itu kak..di belakang mobil. Masak sebanyak itu kakak tidak lihat? Mereka semua pakai baju hitam kayak rompi ” Ujarku meyakinkan.

“Kakak ngg lihat “ Sekali lagi kak Yudika menoleh. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

“Turunkan aku, Kak” Aku memohon. Namun kak Yudikay tak juga mengizinkan. “Sampai di rumah” katanya. Aku malah dipanggulnya makin tinggi. Semakin tinggi aku dipanggul, semakin terlihat jelas pasukan berbaju hitam itu. Tiba-tiba aku melihat mereka bergerak cepat melompat ke dalam mobil yang merangkak berjalan. Aku menjerit kaget. Tak lama berselang, kulihat beberapa orang melompat dari mobil sembari membawa bungkusan berwarna hitam. Gerakkan mereka cepat sekali. Nyaris tak terlihat oleh mata.

“Kak, lelaki keturunan itu hilang” Ujarku setengah berteriak.
“Ada di dalam mobil” Kata kak Yudilat santai. Padahal aku melihat lelaki bermata cipit itu dimasukkan oleh pasukan berbaju hitam itu ke dalam kain. Lalu dipanggulnya dan dibawanya pergi.

“Lapor komandan! Lelaki keturunan yang baru kita masukkan menghilang” Ujar seorang tentara berahang tajam. Kak Yudi kaget bukan main. Tanpa dia sadari aku diturunkannya dari gendongan. Secepat kilat aku berlari ke belakang mobil. Aku ingin memastikan apakah benar lelaki bermata cipit yang hilang? Ketika aku mengintip di sela tubuh TNI, ternyata benar. Lelaki keturunan itu sudah tidak ada di dalam mobil. Padahal mobil padat oleh tentara yang berdiri, dan duduk.

Para TNI saling pandang tanpa mampu berbicara. Termasuk juga kak Yudikat menatapku lama, bengong, seakan menunggu penjelasanku.

“Dia sudah dibawa pergi jauh Kak, tidak ada yang bisa menghalangi. Pendekar-pendekar yang berbaju hitam tadi adalah datuk dari Sumatera Barat” Tuturku singkat. Kak Yudikat semakin bengong. Aku tahu, dalam benaknya seperti bermimpi. Bagaimana mungkin manusia hilang di atara orang ramai. Dan siapa pula pasukan berbaju hitam itu?

Selintas kak Yudikat kembali menguasai diri membuang keheranannya jauh-jauh. Mobil dinas TNI disuruhnya segera berjalan. Pak Camat minta izin untuk berangkat lebih dulu. Kak Yudikat mengangguk sembari memberi hormat. Lalu mempercepat langkah hendak menemui Bapakku segera.

Bersambung..