Harimau Sumatera Hewan Beradat (13)

by -64 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (13)

Penulis : RD Kedum

 

Suasana di gudang kopi Bapak masih ramai. Para pekerja masih asyik menggancu, memilah, membersihkan atah, menampi biji kopi sambil bercengkrama. Demi melihat kak Yudikat dengan beberapa pengawalnya, semula ramai menjadi diam dan sedikit sekali melakukan gerakan. Kak Yudikat langsung duduk dan telihat sedikit cemas. Maklum, masyarakat Pagaralam pada umumnya sangat menghormati tentara.

Rasa kagum terhadap TNI umumnya tertanam pada diri mereka, sebagai kesatuan yang berjasa dan paling berani mengahadapi para penjaja. TNI tidak saja ditakuti oleh masayarakat Pagaralam pada umumnya, tapi lebih dari itu TNI sangat disegani. Maka tidak heran ketika melihat Kak Yudikat mereka menjadi tunduk dan hormat.

“Bapak, tolong bantu aku. Tolong jelaskan padaku, Pak. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat kejadian aneh di depan mata. Aku sudah berkeliling ke pelosok Nusantara, bahkan pernah ke perkampungan paling primitif di Papua. Tapi baru kali ini, baru di kota ini aku menemukan hal yang tidak masuk akal. Bagaimana tidak, warga keturunan yang jelas-jelas berada di dalam mobil TNI yang terkurung rapat, berjejal dengan pasukan, bisa hilang. Lenyap di depan mata. Manusia Pak. Jelas-jelas manusia. Kita masih hidup di bumi, makhluk bernama manusia kan pak?” Ujar kak Yudikat tidak bisa menahan keherannnya.

“Apa yang harus saya jelaskan jika keluarganya bertanya. Sementara saksinya banyak jika warga keturunan itu dimasukan ke dalam mobil. Kemana kami harus mencarinya?” Ujar kak Yudikat.

Bapak mengernyitkan kening. Menurut Bapak luar biasa juga kejadian ini.
“Mengapa memasukan keturunan Cina itu ke dalam mobil? Kesalahan apa yang dia lakukannya?” Bapak balik bertanya.

“Semula saya hanya ingin menyelamatkannya dari cengkraman dek Erus, Pak. Saya melihat Dedek berubah beringas ketika melihatnya. Kata dek Erus dia mencium darah dan daging nenek gunung di tubuhnya. Dan Erus ingin mencabik dan membunuhnya”. Sambung kak Yudikat sembari melihat padaku.

Bagiku kak Yudikat semakin tampan jika memakai baju loreng. Tubuhnya yang tegap, besar tinggi, dan gagah membuat orang segan padanya. Tapi siang ini, aku melihat sedikit risau di wajah kak Yudikat. Atau barangkali karena di depan Bapakku, orang tua angkatnya sehingga beliau kelihatan sedikit manja? Entahlah.

“Ada apa dengan dek Erus, Pak. Mengapa tiba-tiba dek Erus berubah? Tadi yang saya lihat, bukan adik kecil manis seperti ini? Untung saya melihat perubahan dek Erus. Saya langsung memeluk dan mengendongnya terus membawanya pulang. Tapi ketika di gendongan, Erus bilang dia melihat bayak sekali orang berpakaian hitam, menggunakan ikat kepala mengiring di belakang mobil.

Sementara saya tidak melihat kecuali orang yang berkerumun heran melihat prajurit yang memenuhi pasar. Pasukan, saya perintahkan kembali naik ke atas mobil untuk menyerahkan tukang daging ke kantor Polisi agar diproses, lalu pulang ke Batalyon.” Kak Yudikat nyerocos seperti tidak berhenti.

Semua yang mendengar turut memperhatikan dengan wajah takjub dan ekspersi tidak percaya. Sebagian berbisik-bisik entah apa yang mereka bicarakan. Semula para pekerja itu, bekerja seperti semut tidak ada hentinya kecuai waktu istirahat, tiba-tiba serentak menyimak penuturan Kak Yudikat. Sementara aku tak acuh duduk di pangkuan kak Yudikat sambil memainkan beberapa atribut di bajunya. Kejadian seperti ini bagiku tidak aneh sama sekali. Justu orang-orang disekitarku ini terlihat aneh menatap Kak Yudikat dan menatap aku.

“Padahal Pak, isi mobil selain tentara, juga penjual daging dan warga keturunan itu. Tiba-tiba Dek Erus menjerit dan mengatakan warga keturunan itu dibawa pergi oleh pasukan berbaju hitam. Tak lama kemudian, anak buah saya turun dan melapor kalau warga keturunan itu hilang. Setelah dilihat, memang lenyap tidak ada bekas” Lanjut Kak Yudikat lagi.

Wajah kak Yudikat seperti orang bodoh. Dia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ketika topi baretnya dilepas, makin jelas wajah cemasnya. Rambutnya yang cepak, kening yang datar mengkilap, alisnya tebal, semakin terlihat ketampanannya.

Bapak menggangguk-angguk demi mendengar penuturan Kak Yudikat.
“O, warga keturunan itu mungkin salah satu pembeli dan pemakan daging nenek gunung itu. Makanya darah dan dagingnya tercium oleh makhluk gunung” Ujar Bapak meyakinkan.

“Dedek yang ngamuk dan mencium aroma nenek gunung di tubuh warga keturunan itu, Pak. Saya tidak melihat nenek gunung di situ. Nenek gunung itu harimau dari gunung Dempo kan Pak?” Lanjut kak Yudikat lagi. Bapak diam sejenak.

Sepertinya Bapak juga bingung harus menjelaskan mulai dari mana. Mata bapak sekilas menatapku dalam-dalam. Tangan kak Yudikat mengelus-ngelus kepalaku. Sesekali diciumnya sekadar membuang perasaannya yang risau. Aku merasakan sangat damai di dalam pelukan kakakku yang gagah ini. Meski bukan kakak kandung, namun perhatian dan kasih sayangnya memang patut menjadi anak pertama Bapakku.

“Benar Pak, warga keturunan itu pemakan daging nenek gunung. Makanya aku benci dan ingin membunuhnya. Warga keturunan itu dibawa para Datuk, inyiak ke rimba gunung Talang Sumatera Barat. Sepertinya kita tidak akan bisa menemukan dan menyuruhnya pulang. Dia dijaga sangat ketat oleh para inyiak sebagai tahanan kejahatan” Sambungku. Aku sendiri bingung kok menyebut inyiak dan gunung Talang. Sementara aku sendiri tidak tahu dimana gunung Talang tersebut. Termasuk juga kalau di sana orang gunung disebut inyiak. Aku merasakan ada yang berbicara lain dari dalam tubuhku. Dan aku sendiri tidak bisa menghalanginya untuk diam dan tidak turut berbicara.

“Nah, Pak. Dari mana Dedek Erus bisa megetahui hal ini?” Kak Yudikat makin heran. Bapak melihat ke arahku. Dari ekspresinya, Bapak tidak melihat sesuatu yang aneh padaku. Aku saja yang merasa aneh tiba-tiba diriku bisa berubah. Apa ini ada pengaruhnya karena kedekatanku dengan Nenek Kam? Tiba-tiba aku teringat beliau. Mana nenek Kam? Aku baru sadar kalau di rumah ini ada perempuan yang sangat dekat dengan kehidupan nenek gunung. Mengapa tidak dari tadi? Beliau pasti tahu perihal hilangnya manusia keturunn cina Pagaralam itu.

“Mana Nenek, Pak?” Tanyaku
“Ada di atas, jangan diganggu. Nanti saja kita minta penjelasan beliau. Hanya keluarga korban yang memiliki hubungan darah saja yang berhak bertanya kepada beliau” Ujar Bapak.

“Nenek? Nenek yang mana Pak? Lalu apa solusi yang harus saya lakukan demi mempertanggungjawabkan hilangnya warga keturunan itu?” Lanjut Kakak Yudikat lagi.
“Nenek Kam, perempuan yang menghebokan pasar daging tadi. Beliau ada di atas. Nanti akan Bapak tanya dengan beliau perihal kejadian aneh yang kamu alami hari ini. Termasuk menjelaskan kepada keluarga keturunan itu. Insya Allah, Bapak kenal semua warga keturunan se-Pagaralam ini.” Lanjut Bapak melegakan hati kak Yudikat.

Tak lama, kak Yudikat mohon diri. Beliau pamit untuk menyerahkan penjual daging dan laporan orang hilang ke kepolisian. Semula aku hendak ikut.Tapi dilarang kak Yudikat, katanya urusan dinas.

Kembali aku mendengar orang berbisik-bisik. Di kota kecil ini semua kejadian cepat sekali menyebar. Tak urung ruko dan gudang kopi Bapakku didatangi kenalan dan sanak keluarga dari kampung-kampung seputaran kota. Tujuannya hanya sekadar memperlihatkan perhatian sebagai keluarga atau demi meyakinkan kebenaran isu yang menggegerkan itu. Pedagang kecil maupun besar, masyarakat tua muda, sopir angdes, tukang becak, sampai ke dusun-dusun, dan talang-talang . Hampir setiap sudut membicarakan peristiwa hari ini. Benar-benar menghebokan. Bahan pembicaraan mereka tetap seputaran peristiwa hari ini. Tak sedikit yang mengatakan mereka melihat peristiwa itu dengan mata dan kepala sendiri. Tentu saja akan ditambah dengan penyedap rasa agar semakin guri.

Di terminal, di warung-warung kopi, sampai penumpang angdes tak kalah serunya bertukar informasi. Di dalam angdes mereka akan berbicara seperti saling kejar, kadang mirip seperti orkestra salah arah. Gemuruh tidak jelas. Demikian juga dengan sanak keluargaku, baik yang masih memiliki hubungan darah maupun saudara jauh, bahkan hanya sekadar kenal saja, tak sedikit berkunjung ke rumah sekadar menujukkan perhatian mereka. Cara seperti ini memang terpupuk sejak dulu kala pada masayarakat Besemah pada umumnya. Beginilah salah satu cara masyarakat Besemah dalam menjaga kekerabatan lebih tepatnya kekeluargaan. Rasa peduli mereka tunjukkan bukan pada hal yang berkaitan dengan ketika bersenang-senang saja, termasuk masalah kecil pun mereka sangat peduli.

Apalagi jika mendengar berita kelayuan, mereka akan memprioritaskannya untuk hadir, dan berusaha menghibur keluarga ahli musibah, dan betah berlama-lama.
Seperti dibaiat, umumnya masyarakat Besemah merasa bertanggujawab menjaga nama baik keluarga. Bahkan demi mempertahankan nama baik dan harga diri keluarga mereka siap mempertaruhkan nyawa. Meski hubungan kekerabatan sudah jauh sekali pun, namun karena didorong rasa kekeluargaan pun mereka siap berkorban. Maka tidak heran sehingga segala hal baik dan buruk mereka akan bersama-sama menanggung dan menyelesaikannya.

Termasuk masalah yang siang tadi. Apalagi Bapakku dianggap orang yang dituakan dalam keluarga besar dan kerabatnya. Disinilah akan terlihat hubungan kekerabatan yang kental dalam keluarga. Tapi kali ini menurutku agak berbeda. Mereka datang pasti karena dorongan rasa ingin tahu peristiwa yang menggemparkan tentang perempuan tua yang mengamuk di pasar daging, sampai lenyapnya cina keturuanan secara misterius itu. Kurasa hal itu lebih menarik bagi mereka sehingga berduyun-duyun datang untuk meminta penjelasan Bapakku.

“Biarlah, pelan-pelan cerita menggemparkan ini akan menguap dengan sendirinya. Di daerah kecil kita ini peristiwa orang hilang tiba-tiba, entah diambil oleh nenek gunung atau maksumai bukan suatu yang baru. Sejak beabad-abad lalu kehidupan seperti ini sudah biasa.” Ujar Bapak ketika beberapa kerabatnya berkunjung ke rumah dan bertanya.

Bersambung…