Harimau Sumatera Hewan Beradat (4)

by -27 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (4)

Penulis : RD Kedum
https://www.facebook.com/rd.kedum

Suasana di rumah nenek Kam menjadi mencekam. Semua terhanyut dengan perasaan ibu nenek gunung yang sukmanya masuk ke dalam diri Nenek Kam. Ini adalah cara agar bisa berinteraksi dengan makhluk itu. Sebagian ibu-ibu yang mendengarkan turut terisak. Tak sedikit lelaki turut berair mata. Sangat terasa sekali bagaimana sedihnya kehilangan anak lelaki satu-satunya. Dibantai, dikuliti lalu kulit dan dagingnya dimakan dan diperjualbelikan.

“Kami tidak akan pernah mengganggu kehidupan manusia. Bukankah dari dulu kita selalu hidup berdampingan tidak saling mengganggu meski kita sangat berdekatan? Meski kami bukan manusia, tapi kami memiliki aturan. Tidak mudah kami menyerang manusia. Sebab kami pun akan dihukum jika melakukan kesalahan. Bagaimana dengan kalian? Bujang itu anakku satu-satunya, sedang berjalan-jalan mencari mangsa. Terjerat oleh perangkap yang sengaja kalian pasang di rimba. Anakku tidak masuk ke wilayah perkebunan kalian. Rimba itu rumah kami. Tetapi anakku kalian bunuh di situ. Padahal anakku sudah minta ampun, dia tundukkan kepala mohon untuk tidak dibunuh. Tapi masih juga kalian dibantai. Bahkan dengan bangganya sesumbar dengan warga dusun seakan ingin menunjukkan jika dirinya hebat, gagah, bisa menakhlukan raja rimba” Suara itu semakin menyayat. Perasaan perihnya seperti menggali lubang telinga hingga ke liang dada.

‘Lelaki yang jenazahnya di Tebing Sekip itu memang bangsa kami yang bunuh sebagai bentuk pembalasan. Nyawa memang harus dibalas dengan nyawa. Dendam kami belum akan terbalas apabila dia masih hidup” Ujar ibu nenek gunung kembali. Kakek mengangguk-angguk. Apa yang disampaikannya benar adanya.

“Kami mengakui kesalahan kami Nek, nyawa telah dibayar dengan nyawa. Yang membunuh anakmu telah mati. Kami inginkan kita kembali hidup bersama tanpa gesekan. Kami ingin kita kembali damai di dusun kita masing-masing. Sekali lagi kami manusia mengakui kesalahan kami. Kami memang serakah, tidak beradat, tidak mampu menjaga kehidupan damai yang telah diwariskan oleh nenek moyang kami. Nenek, ibarat nasi telah jadi bubur, buluh sebatang telah hilang buku. Hal yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali. Anak bujang Nenek tak bisa hidup kembali. Demikian juga yang membunuh anakmu telah mendapat ganjarannya. Selanjutnya, bagaimana dengan kita agar bisa kembali hidup damai seperti sebelumnya. Kami semua penduduk dusun di Seberang Endikat ini, minta nyawa, dan akan kami pesankan ke anak cucu, agar jangan pernah mengusik kehidupan kalian. Kira-kira, apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan kami, Nenek?” lanjut Kakek penuh kesungguhan.

“Aku tidak bisa memutuskan, kami masih harus musyawara dengan junjungan kami, tuanku Panglime Raje Nyawe, di puncak Dempu (Dempo)” Tak lama berselang, Nenek Kam bersedekap, diam sejenak. Nampaknya sukma Ibu nenek gunung tengah menghadap Panglime Raje Nyawe. Konon Panglime Rame Ngawe adalah pemimpin kerajaan nenek gunung di Besemah Libagh berdiam di puncak Gunung Dempo. Beliau sering juga disebut Macan Kumbang.

Tidak menunggu lama, nenek Kam kembali menggeram. Tangannya seperti mencengkram. Otot-otonya terlihat kencang. Sementara matanya, tajam nanar dan menyalah.

“Assalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh. Aku sudah tahu maksud pertemuan ini Yasir” Panglime Raje Nyawe menyebut nama Kakekku.

“Aku telah mendengar semuanya. Apa yang disampaikan cucuku benar adanya. Hati siapa yang tidak akan marah melihat anaknya dibantai. Kalau bukan karena kami masih bisa menahan diri, sudah lama dusun ulu itu kami ratakan. Kami bisa saja membuat kehidupan anak manusia dusun ulu itu tidak tentram selamanya. Kami seret penduduk dusun itu ke rimba. Kami bunuh di sana. Apakah kalian bisa mencegahnya? Tidak! Kami bisa saja mengerahkan semua pasukan bangsa kami yang berdiam di sepanjang Bukit Barisan ini untuk menyerang kalian. Tapi kami tidak melakukannya. Karena pada dasarnya kita sama. Yasir. Kita ingin anak cucu kita berkembang dan hidup damai. Semua sudah terjadi, semoga kejadian ini tidak terulang lagi” Ujar Panglime Raje Nyawe dengan suara sangat berwibawa.

“Benar Puyang Panglime Raje Nyawe. Gara-gara perbuatan bodoh satu orang, telah merusak banyak hal. Kehidupan kita jadi terganggu, hubungan kita pun jadi terganggu. Kami minta maaf Puyang Pangling. Aku mewakili ‘jurai tue’ dusun seberang Endikat ini, minta ‘nyawa’ nian. Selanjutnya, apa yang harus kami lakukan untuk mengembalikan dusun menjadi damai kembali Puyang Pangling? Agat hubungan kita tidak terjadin gesekan lagi, kami akan patuhi, Puyang Panglime” Ujar Kakek penuh takzim.

Pendek kata, Puyang Panglime Raje Nyawe menyampaikan agar semua kembali seperti sedia kala ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bangsa manusia. Pertama, kembalikan semua organ tubuh anak bujang cucunya. Tidak boleh ada seujung kukupun yang tertinggal. meletakkan semuanya petang ini juga di pinggir dusun. Lalu taburkan beras kunyit. Selanjutnya, bangsa manusia, utamanya dari dusun ulu itu harus nepung. Iringan nepung dengam menyembelih seekor kerbau, lalu “sedekah bubugh’ dan sekapur sirih di tempat anak cucunnya dibantai.

“Baiklah Puyang Panglime Raje Nyawe. Terima kasih. Insya Allah akan kami laksanakan segera.” Ujar Kakekku.

‘Untuk selanjutnya, sampaikan dengan anak cucu kalian agar jangan membunuh bangsa kami jika tidak terpaksa” Suara Puayang Panglime Raje Nyawe tegas.

Kakek mengiyakan dan siap menyampaikannya pada anak cucu. Tak lama berselang Puyang Panglime Raje Nyawe mohon diri dan mengucapkan salam.

Akhirnya ketika nenek Kam sadar kembali, disampaikanlah apa yang barusan terjadi. Selebihnya kakek minta Nenek Kam untuk mengatur segalanya, yaitu nepung, nyembelih kerbau, dan sedekah bubugh.

Selanjutnya, para kepala dusun dikumpulkan untuk berembuk, utamanya dusun Danau, Singepure, Bangke, Gunung Liwat, dan Tebat Langsat. Rangkaian ritual itu dilaksanakan sesuai pesan Puyang Panglime Raje Nyawe.

“Ini salah kita. Si Anu memang keras kepala! Tidak bisa dicegah. Beberapa kali aku merusak jeratnya dengan harapan agar kawan-kawanku tidak kena jerat. Tapi selalu dipasang. Sudah kuperingatkan, tapi masih juga tidak percaya. Nah inilah akibatnya. Aku juga marah. Makanya tidak kucegah nenek gunung berkeliling dusun. Agar kalian tahu” Ujar nenek Kam ketika itu.

Akhirnya lima dusun Ulu Endikat sepakat nepung, dan bayar denda dengan cara menyembelih kerbau dan sedekah bubugh. Sejak itu dusun aman kembali. Nenek Kam menjadi mediator perdamaian itu. Keluarga yang membunuh, tidak saja sedih karena kepala keluarga mereka meninggal dalam keadaan mengenaskan, namun juga malu dengan penduduk kampung karena ketahuan sumber onar.

Dalam hati, aku mengagumi Nenek Kam. Perempuan separuh baya bertubuh ringkih namun memiliki kemampuan luar biasa. Menurut Kakek beliau bisa begitu turun menurun dari leluhurnya.

Banyak pengalaman yang tidak masuk akal bersama beliau. Misalnya saja. ketika di rumah panjang Bapakku mengadakan hajatan (aku tidak ingat hajatan apa) seperti biasa semua sanak keluarga dari dusun tetangga akan datang. Bahkan banyak yang bermalam.

Di dusunku, sejak bulan September, curah hujan sangat tinggi. Otomatis, jalan jadi licin, untuk sampai ke dusun Kakekku pasti siapapun akan basah kuyup. Tapi tidak bagi Nenek Kam. Beliau tiba di rumahku usai salat maghrib. Hujan masih sangat lebat. Antara kampung Nenek Kam dengan Dusunku kurang lebih 1,5 km, dan itu harus ditemluh demgan berjalan kaki. Ketika beliau masuk, semua heran. Biasanya yg datang akan mencuci kaki di garang, dan sedikit banyak pasti akan basah. Tapi nenek Kam santai saja masuk rumah, tidak basah sama sekali, bahkan kakinya kering. Melihat nenek Kam tidak basah sama sekali, ibuku penasaran. Di senter dan dipegangnya kaki Nenek Kam. Benar saja kering, hangat, dan bersih.

“Kenapa Nenek Kam tidak kotor, bahkan tidak basah sedikitpun. Bagaimana caranya Nek?” ujar Ibuku yang disambut Nenek Kam dengan tawa. Setelah terus didesak barulah beliau menjawab dengan lidah cedalnya.
“Aku tadi diantar sama adik bujangku” katanya.
“Adik bujang? Setahu kami nenek Kam tidak punya adik bujang? Adek Bujang yang mana?” Sambung ibuku lagi semakin heran.

“Ai..kamu mau tahu saja. Aku punya adik bujang. Itu dia ada di luar”
Ibuku langsung menongolkan kepala ke luar jendela. cahaya lampu petromak membantu penerangan. Betapa terkejutnya, ternyata di bawah ada seekor nenek gunung berwarna kumbang sedang duduk menikmati sisa hujan. Itukah yang disebut nenek Kam adik bujangnya? Nenek Kam hanya terkekeh ringan. Ibuku semakin yakin jika beliau memang manusia damai yang selalu sikelilingi oleh makhluk rimba itu, yaitu nenek gunung.

Bersambung…