Harimau Sumatera Hewan Beradat (5)

by -15 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (5)

Penulis : RD Kedum
https://www.facebook.com/rd.kedum

Hidup berdekatan dengan Nenek Kam, memang ngeri-ngeri sedap. Ketika beliau menjadi manusia normal, maka aktivitas beliau seperti penduduk dusun pada umumnya. Pergi ke kebun, mencari kayu bakar di hutan, mucung kemiling (memungut buah kemiri yang jatuh karena sudah masak), mucung kemang atau bacang ketika musim buah, menutuk (menumbuk) kopi dengan lesung, berkumpul dengan para emak di bawah rumah panggung, atau berderet duduk di tangga, bercengkrama sambil kerokan, mencari kutu, atau mencabut uban. Atau ke sawah milik warga, bergotong-royong bersama emak-emak se-dusun menanam padi, atau ngetam bersama ketika padi telah masak.

Tapi ada saatnya Nenek Kam akan terlihat aneh. Misalnya ketika beliau ikut warga dusun bergotong-royong menugal, menanam padi, atau panen, dalam waktu bersamaan ada yang mengatakan jika beliau sedang membersihkan rumput di kebunnya, atau terlihat beliau tengah menyabun (mencuci) pakaian di pancuran, menyapu halaman rumahnya, dan lain sebagainya. Padahal sudah sangat jelas jika beliau bersama emak-emak ikut ke sawah bersama warga lainnya. Maka tidak heran ketika beliau turut serta hendak membantu di sawah ibuku, ibu bertanya;

“Yang di hadapanku ini Nenek Kam nian apa kawannya? Yang akan membantu bertanam padi siapa? Nenek Kam apa iringannya? Jangan nakut-nakuti kami Nek. Nanti ada yang melapor, ada dua nenek Kam. Di sini menanam padi, tahunya di dusun sedang masak lemang?” Canda Ibuku.

“Aiii..ngg usah takut. Sama saja. Yang penting kerjaan kita selesai semua” Ujar Nenek Kam sambil tertawa.

Menurut perkiraan ibuku, menanam padi di sawahnya ini tidak akan selesai dalam waktu dua atau tiga hari. Meski tidak kurang sepuluh orang yang akan membantu. Sebagian mereka ada yang bertugas menanak nasi untuk makan siang bersama. Sementara yang lelaki akan mengangkut uni (bibit padi) ke tiap pelang dan petak sawah. Sementara aku, bersama paman Arsun (sepupu ibuku yang usianya tidak jauh beda denganku), akan bermain di hutan pinggir sawah, menyisir semak belukar guna memetik daun pakis yang masih muda, atau mencari buah ‘tungperingat’ yang berbuah lebat di semak-semak.

Dari sela pohon dan rerumputan, aku memandang ibu-ibu dan bapak semuanya tertunduk-tunduk menanam padi. Mereka nampak tekun dan cekatan. Suara mereka terdengar sedikit berteriak ketika bercerita. Entah apa yang dibicarakan, tapi seluas dataran sawah penuh dengan suara mereka. Bahkan kadang suara mereka menggema. Mungkin karena posisi sawah ibuku persis di kaki bukit ulu dusun Bangke. Kadang terdengar tawa mereka berderai bersamaan.

Batang padi yang baru ditanam terlihat tersusun rapi seperti ribuan prajurit. Tanpa menggunakan penggaris tetapi terlihat rapi dan lurus. Hampir separuh sawah yang luas sudah ditanami padi. Dalam hati aku bertanya, kok cepat sekali? Aku mengamati orang-orang yang membantu menanam padi. Tapi mengapa jumlah kerbai (emak-emak) sepertinya dua kali lipat dari yang kulihat sebelumnya?. Ah, mungkin mereka baru datang, batinku. Tidak pakai acara minum kopi lagi seperti yang lainnya, tapi langsung turun ke tengah sawah. Pakaian kain dan kebaya mereka terlihat lebih mencolok dari yang lainnya. Ada yang kuning terang, merah cerah, biru terang, berbunga-bunga. Sungguh berbeda dengan uwak, makwo, dan kerbai-kerbai lainnya. Bahkan dengan nenek Kam sendiri. Selain memakai kain dan kebaya, tengkulok (selendang pengikat kepala) mereka ikat erat di kepala, baru ditutup dengan serindak (caping) untuk melindungi dari sengatan panas matahari.

Aku hanya mendengar suara-suara orang yang kukenal saja bercengkrama. Tidak mendengar suara-suara kerbai (ibu-ibu) yang berbaju terang itu. Kutanyakan dengan Paman Arsun, siapa mereka yang baru datang membantu menanam padi di sawah Ibu. Paman Arsun bilang tidak megenal mereka. Mungkin kerbai (ibu-ibu) Semende yang membuka kebun di ulu bukit itu. Aku percaya saja. Berhubung nenek dari Ibuku berasal dari Pajar Bulan Semendo. Hubungan kekerabatan kami dengan orang Semende, meski hanya puyang yang bersaudara, namun sangat kental seperti saudara kandung. Bisa jadi mereka turun membantu. Apalagi meski Bapakku lebih banyak melakukan usaha bisnisnya di Kota Pagaralam, namun statusnya sebagai ‘rie’ (Kepala Desa) Singepure belum tergantikan.

Ketika tiba waktunya makan siang, aku heran mengapa orangnya menjadi sedikit? Aku hanya melihat ada sepuluhan emak-emak seperti tadi pagi. Lalu kemana emak-emak yang berbaju terang itu? Sebenarnya aku ingin bertanya. Tapi seketika mataku bertatapan dengan nenek Kam. Beliau seakan tahu apa yang ada di benakku.

“Sini Cung (cucu), duduk dekat Nenek” Beliau meraih tanganku menyuruhku duduk di pangkuannya. Sambil mengelus rambutku yang berpeluh beliau berbisik.

“Nanek tahu apa yang hendak kau tanyakan. Kamu ingin bertanya tentang perempuan-perempuan yang berbaju terang itu bukan?” Aku tidak menggangguk, tidak juga menggeleng. Tapi menatap matanya yang kecil. Berusaha menyelidik sesuatu di sana dan minta jawabannya.

“Iya Nek, mana mereka? Siapa mereka? Mengapa mereka tidak ikut duduk bersama kita menghadapi hidangan makan siang? Mereka pulang kemana?” Tanyaku balas berbisik.

“Mereka kawan Nenek. Mereka sengaja nenek ajak untuk membantu menanam padi di sawahmu. Biar sawahmu yang luas cepat selesai ditanam padi. Kamu bisa lihat mereka di paok (kolam) sebelah dangau (rumah di tengah sawah). Lihatlah. Tapi jangan berbicara ya…diam saja” Ujarnya.

Aku langsung bangkit dari pangkuannya menuju garang dangau. Belum sempat aku mengijakkan kaki ke tangga, kutongolkan kepala dari dinding garang. Masya Allah, aku kaget dan terbelalak. Yang kulihat adalah segerombolan nenek gunung tengah berenang sembari menangkap ikan dan memakannya di kolam yang tidak seberapa besar itu. Herannya, bibiku yang tengah mencuci piring di pancuran di atas kolam, lalu beberapa orang lelaki asik bercengkrama sembari mengeringkan peluh, sambil merokok di bawah dangau, tidak merasa takut dan terganggu oleh gerombolan nenek gunung yang bergembira itu.

Lama aku terpaku memandang aktivitas mereka. Kolam yang tidak seberapa besar itu nampak keruh. Namun aku tidak berani berkata apa-apa. Aku ingat pesan Nenek Kam. Diam, jangan berbicara. Aku memilih diam. Aku terperanjat tatkala ibuku memanggil, menyuruhku mengambil makan. Sementara Paman Arsun sudah makan lebih dulu.

Akhirnya aku beranjak dari sisi garang. Meski hatiku tetap ingin melihat ativitas nenek gunung itu. Sebelum makan, kuhampiri Nenek Kam yang sedang menyendok nasi ke pinggan. Aku berbisik menempelkan mulut ke telinganya. Takut sekali jika yang lain mendengar.

“Nek, yang di bawah itu nenek gunung. Bukan kerbai (ibu-ibu) yang kulihat di tengah sawah tadi’ Bisikku dengan dada agak gemuruh. Nenek Kam mengedipkan matanya sambil tersenyum. Lalu memberI isyarat agar aku mendekatkan telingaku ke mulutnya.

“Merekalah kerbai-kerbai (ibu-ibu) di sawah tadi yang kamu lihat memakai baju warna-warni. Mereka kawan nenek. Hanya kamu yang bisa melihat wujud asli dan ketika dia menyerupai manusia. Jangan cerita dengan siapa-siapa ya Cung. Cukup kita berdua saja” Ujarnya lagi. Dan aku menepati janji itu. Padahal banyak sekali yang ingin kutanyakan pada nenek Kam. Aku ingin penjelasannya sedetil mungkin, mengapa nenek gunung itu bisa berubah wujudnya? Kadang seperti manusia, kadang seperti raja rimba pada umumnya. Sekali lagi, mengapa hanya aku yang dapat melihatnya?

Waktu libur sekolah terasa begitu singkat. Belum terjawab rasa ingin tahuku, aku sudah harus pulang ke Pagaralam. Aku harus menunggu waktu libur panjang tahun depan untuk bisa bertanya lebih detil pada nenek Kam. Duh alangkah lamanya? Pengalaman menakjubkan itu kusimpan sendiri. Bahkan untuk menuliskannya di buku harianku aku tak berani. Tiap kali ingin menulisnya, serasa nenek Kam ada di belakangku.

Ketika aku duduk di kelas 5 SD, Nenek Kam datang ke Pagaralam. Beliau segaja tandang (menginap) ke rumah kami. Entah dalam rangka apa aku tidak tahu. Namun yang jelas bekali-kali beliau berkata minta supaya bisa meninggal di rumah Hasan, beliau sebut nama ayahku. Melihat beliau berkenan menginap di rumah kami. Tentu saja yang paling bahagia adalah aku. Aku dapat bertanya tentang banyak hal padanya. Berharap beliau tidur berdua denganku saja.

Bayangan perempuan berbaju terang yang membantu di sawah ayahku dulu belum hilang dalam benak. Malam ini aku harus dapat jawabannya, tekadku.

“Sudah kau ceritakan dengan siapa saja cerita di sawah dulu, Cung?” Tanya nenek Kam sambil menjulurkan kakinya untuk kupijit ketika aku berbisik menanyakan peristiwa dua tahun lalu. Aku segera menggeleng. Langsung kujawab, jika aku tidak bercerita dengan siapa-siapa. Sesuai pesan nenek dulu, cukup kita berdua saja yang tahu. Nenek Kam tersenyum. Wajah keriputnya berubah menjadi sangat manis. Meski giginya tinggal beberapa, namun ketika beliau tersenyum padaku, menjadi berubah. Aku seperti melihat perempuan muda belia, berkulit kuning langsat, cantik jelita.

“Nek, Nek…kenapa wajah nenek berubah menjadi cantik” Tanyaku heran. Kuraih tangannya yang semula coklat tua, kurus dan keriput. Kemana kerutan itu? Mengapa menjadi mulus dan berwarna kuning langsat?. Aku terperangah.

“Hanya dirimu yang dapat melihat wajah ghaibku. Inilah aku Cung, nenek Relingin. Sungutan jeme gunung (manusia yang sangat berdekatan dengan orang gunung). Sebentar lagi, Nenek akan pulang ke kampung Nenek di puncak Dempu. Tugas Nenek sudah hampir selesai.” Ujarnya.

Aku terperangah ketika beliau menyebut nama aslinya Relingin. Aku tidak mengerti mengapa beliau mengatakan akan pulang ke Gunug Dempu? Bukankah kampungnya ada di Seberang Endikat? Dusun Gunung Liwat?

“Kalau nenek lihat, kamu anak yang cerdas,berhati tulus, ikhlas dan setia. Kamu hebat. Kamu anak baik. Jaga dirimu baik-baik ya Cung. Dalam perjalanan hidupmu, banyak hal yang akan kau temui. Kau akan merasakan ada orang-orang yang sengaja menghadang langkahmu. Hadapi itu. Jangan takut. Jalani saja dengan ikhlas ya. Tapi nenek kagum padamu. Nenek lihat kamu sangat tegar. Cung, suatu saat jika ada orang minta tolong padamu, jangan pernah menolak. Bantulah semampumu” Aku mendengarkan dengan hikmat. Entahlah aku seperti terpaku. Semua yang disampaikan Nenek Kam serasa meresap dalam jiwa. Meski beberapa kata dan maksud yang disampaikan nenek Kam tak semuanya bisa kucerna. Aku mencium ada beberapa hal ghaib yang sengaja beliau pesankan padaku. Tapi apa itu? Aku bingung hendak bertanya apa.

Bersambung…