Harimau Sumatera Hewan Beradat (8)

by -11 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (8)

Penulis : RD Kedum
https://www.facebook.com/rd.kedum

Kali ini aku bersama nenek Kam memasuki sebuah halaman yang luas. Bersih dan rindang. Rumah panggung di hadapanku tampak lebih besar dibandingkan dengan rumah-rumah di sampingnya. Dalam hati aku bertanya, rumah siapa pula ini? Dinding-dinding rumah kayunya seperti diukir. Bentuknya persis seperti rumah bari memanjang ke belakang. Tiang-tiangnya besar bulat. Atap sirap rumahnya mirip seperti tanduk, lancip kiri kanan.

Antara ruang utama dengan dapur terlihat ada sekat beranda dan tangga untuk turun ke arah pancuran. Di samping tangga tersusun rapi salangan puntung (kayu bakar) kayu kopi besar dan bernas. Jendela kecil menghadap ke jalan nampak terbuka lebar. Di belakang rumah aku melihat tengkiang (tempat penyimpanan padi) berdiri tegak di atas kolam yang penuh dengan ikan. Pancuran yang terbuat dari bambu besar, memercik deras menimpa batu-batu hitam yang tersusun rapi. Indah sekali.

Tapi lagi-lagi aku heran mengapa semua orang yang kulihat semuanya diam? Bahkan bertatapan mata saja denganku pun enggan. Apalagi untuk berhadapan muka? Paras mereka sulit untuk kurumuskan seperti apa. Namun semuanya terlihat bersih dan bening.

Aku dan nenek Kam menaiki anak tangga yang lebar dan landai. Melepas alas kaki, lalu mendorong pintu rumah yang berdaun lebar. Engselnya yang terbuat dari besi bulat mengingatkan aku pada pintu-pintu gedung jaman dahulu. Bunyi derit pintu yang di dorong mirip suara mesin kilangan padi. Aku teringat rumah salah satu saudara kakekku di dusun. Rumah bari Besemah beratap sirap, penuh dengan ukiran, pintunya tebal, besar dan berat.

Aku terperanga ketika memincangkan kaki masuk, pandanganku tersekat tiang di tengah-tengah rumah. Tiang besar dan bulat ini tegak kokoh menyanggah tengah rumah dari bawah hingga mubungan. Meski jendela-jendelanya kecil memanjang namun pencahayaannya cukup terang untukku melihat seisi ruangan. Semuanya berisi barang antik yang serba ukiran. Kursi dan lemari jati berukiran, dihiasi ambal berbulu halus bermotif kembang.

Di ruang tengah terpajang dipan kayu jati berkelambu warna kuning lembut, sprei beludu warna coklat muda sangat padu dengan lantai papan yang berwarna coklat yang licin mengkilap. Di samping dipan sepasang kursi bulat jaman dahulu, dan kursi malas menghadap ke jendela. Dari jendela aku dapat melihat sawah yang membentang, menghadap ke Bukit yang bercadas. Pemandangan yang sangat asri. Ada juga orang-orangan untuk mengusir burung pipit. Angin semilir membuat tangkai padi mengangguk-angguk.

Aku menongolkan kepala ke jendela, di bawah, seorang lelaki setengah baya tengah merendamkan pangkul (alat tradisional untuk menangkap ikan) ke salah satu kolam. Lalu menaburkan dedak padi di atasnya. Sebentar saja, ikan-ikan emas berlompatan memperebutkan makanan. Yang lebih memukau adalah, dua ekor nenek gunung berbulu loreng, dan tiga ekor singa memiliki warna yang berbeda, singa hitam/kumbang, singa berwarna putih, dan singa berwarna kuning. Ketiganya tidur bermalas-malasan di atas pematang kolam sembari menjuntaikan kepala ke arah kolam. Sedangkan nenek gunung hanya duduk terpaku seakan menunggu sinar matahari. Mereka mirip seperti kucing-kucing yang manja. Ingin sekali aku menghampirinya, mengelusnya, bahkan menciumnya.

Aku merasakan telapak tanganku sedikit di dorong ibu jari nenek Kam. Ini isyarat, batinku. Kubuang jauh-jauh keinginanku. Dari beranda antara ruang utama dengan dapur, aku sedikit menongolkan kepala ke dapur. Tungku perapian nampak menyala. Di atasnya ada periuk dan cerek air. Seorang perempuan berkain batik dan kebaya kembang, membungkuk meniup api dengan teghing (bambu kecil untuk meniup api).

Aku merasa Nenek Kam seperti membimbingku untuk turun. Aku mengikuti kehendaknya saja. Kami kembali menelusuri jalan kampung. Tapi bukan jalan yang tadi. Aku dan Nenek Kam sedikit memutar ke arah belakang. Ternyata, di bagian ini pun rumah-rumahnya tak kalah indah dan asri. Beberapa perempuan kulihat menyapu halaman dan bawah rumah panggung mereka. Ada juga anak kecil yang berlari-lari saling kejar dengan nenek gunung dengan gembira.

Aku berpapasan dengan seorang anak kecil perempuan yang usianya tidak jauh denganku. Aku heran, mengapa aku merasa sangat kenal dengannya. Tapi aku lupa kenal dimana. Ingin sekali aku menegurnya. Tapi langkah nenek Kam semakin cepat membuatku mengurungkan niat untuk menyapanya.

Usai berkeliling, dari jauh terlihat bubungan istana yang berwarna emas terlihat makin bersinar. Di ufuk timur matahari mulai naik seperti bola raksasa. Aku dan Nenek Kam kembali ke tempat semula lurus mengarah ke istana yang berkilau.

Aku merasakan tanganku sedikit digenggam lebih erat. Tiba-tiba aku terperanjat. ada tangan dingin mengelus-elus pipiku . Seketika kau membuka mata. Aku masih duduk di kursi beranda rumah. Aku kaget. Nenek Kam masih memegang cangkir kopi. Aku terbengong-bengong. Bukankah tadi aku berjalan-jalan di sebuah perkampungan yang asri? Mengapa sekarang aku berada di sini? Apakah mungkin aku tertidur dan bermimpi dalam posisi duduk seperti ini. Ah! Tidak mungkin. Aku menatap bengong nenek Kam. Wajah orang tua biasa-biasa saja.

“Sudah, sekarang mandi sana. Kamu kan mau sekolah, nanti terlambat. Sudah puas kan jalan-jalannya? Itulah salah satu perkampungan di Gunung Dempu tempat nenek sering pulang.” Ujar Nenek Kam seakan tahu apa yang kupikirkan.

Belum hilang rasa penasaranku, suara Bapak sudah memanggil-manggil menyuruhku turun untuk siap-siap sekolah.

“Berjalan-jalan? Jadi apa yang kulami barusan memang kenyataan berjalan-jalan di kampung yang berada di puncak gunung Dempu? Kampung Nenek Kam?”. Aku masih terbengong menatap nenek Kam. Beliau seperti pura-pura tidak melihatku. Rasa takjub dan tidak percaya belum bisa kukuasai. Nenek Kam masih asyik mengunyah buah rengas dengan lahap.

“Nek, Nenek belum akan pulang ke dusun bukan?” Tanyaku. Tiba-tiba ada perasaan rindu dengan beliau. Dan aku takut berpisah lama-lama.

“Iya, malah aku berdoa, semoga aku bisa meninggal di rumahmu ini. Di rumah Hasan” Ujarnya. Dalam hati aku bahagia sekali. Kata Meninggal kutepis jauh-jauh. Nenek Kam tidak boleh meninggal. Enak saja!

“Nek, nanti malam ajak lagi aku ke kampung di puncak itu ya” Ujarku sedikit berbisik dan berlalu.

Berangkat ke sekolah, biasanya aku akan barengan dengan teman-temanku. Evi, Helen, dan Fanny, yang keturunan Tionghoa itu. Mereka kusuruh berangkat duluan. Pagi ini aku ingin berangkat ke sekolah sendirian. Biasanya aku akan singgah dulu ke rumah Merry, menjemputnya barengan ke sekolah. Kali ini aku sengaja memilih jalan lain. Aku ingin sendiri.

Di dalam perjalan ke sekolah, aku masih memikirkan peristiwa singkat yang kualami. Jalannan sudah mulai ramai oleh anak sekolah. Aku sengaja menikung ke jalam Masjid Raya. Tiada lain hanya hendak menikmati puncak gunung Dempo sejenak. Aku bersyukur langit tampak cerah meski sisa embun belum sepenuhnya turun.

Aku berhenti sejenak di pasar proyek tidak jauh dengan simpang tiga Kemuning. Biasanya puncak Dempu akan tampak jelas dari simpang Kemuning ini. Kali ini aku naik ke atas pagar tembok sekat antara tokoh manisan dengan pasar proyek. Sejenak kuperhatikan gunung Dempu. Seperti biasa gunung itu seperti gundukan berlapis dua berwarna hijau pekat. Aku mengira-ngira letak dusun yang kudatangi bersama nenek Kam tadi pagi. Gunung yang terlihat runcing itu ternyata menyimpan sejuta rahasia yang sulit untuk dipercaya. Di sana berdiri istanah megah, perkampungan asri tanpa suara.

Aku terkaget ketika Budiman dan Suwandi teman sekelasku memanggil-manggilku. Aku segera melompat dan mendekati keduanya.

“Ngapain kamu pagi-pagi naik tembok? Lihat layang-layang ya?” Kata Suwandi.
“Ini masih pagi tahu, kalau mau lihat layang-layang nyangkut nanti agak siangan”. Lanjutnya lagi.

Aku hanya tertawa. Suwandi adalah salah satu sahabat akrabku di sekolah. Anak katurunan Tionghoa ini terkenal nakal. Tapi aku suka bersahabat dengannya. Hatinya baik. Dia lincah, berlarinya kencang, kalau bermain dia nampak lebih cekatan dibandingnkan dengan Budiman yang rada malas karena kegendutan. Akhirnya kami bertiga berjalan bersama menuju sekolah.

Bersambung…..