Harimau Sumatera Hewan Beradat (9)

by -7 Views
Ilustrasi Harimau Sumatera

HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT (9)

Penulis : RD Kedum
https://www.facebook.com/rd.kedum

Aku merasa sangat legah ketika lonceng pertanda pulang sekolah berbunyi lima kali. Segera kukemas buku, pensil, dan pena yang berserak di atas meja. Aku mendengar beberapa kawan sudah janjian untuk main layang-layang dan kelereng di tanah kosong belakang rumahku. Di antara mereka menyebut-nyebut namaku. Kali ini aku tidak tertarik sama sekali. Biasanya aku yang punya ide untuk bermain apa dan di mana.

Usai mengucapkan salam dengan Pak Muslini guru IPS-ku, aku berlari paling cepat menuju pintu.
“Mer, Endang, Nita, Arief, Suwandi, aku duluan ya” Teriakku tanpa meminta persetujuan mereka. Aku langsung berlari kencang menyisir jalan ke arah pasar proyek. Beberapa kali aku hampir menabrak ibu-ibu yang berbelanja.

Sampai di rumah, aku langsung melempar tas ke atas karung kopi. Bibi Sumi dan beberapa perempuan temannya tengah membersihkan biji kopi di gudang Bapakku hanya tersenyum melihat aku bersusah payah naik ke atas gundukan kopi agar bisa dengan cepat masuk rumah. Seperti biasa, Bik Sumi memungut tasku lalu menyusul masuk ke dalam rumah, membantuku melepaskan baju sekolah dan menganti dengan baju main yang sudah disediakan ibuku.

Sebenarnya perempuan hitam manis ini bekerja di gudang Bapakku. Kata ibuku beliau paling rajin dan tidak hitung-hitungan soal tenaga. Kerap beliau membantu ibu memasak, membersihkan rumah dan lain-lain tanpa diminta. Oleh sebab itu Ibu dan Bapakku sangat sayang padanya. Menurutnya dia senang anak-anak, sehingga hampir setiap hari dia akan membantuku dalam hal apa saja. Termasuk hari ini mengingatkan aku kalau mau main harus makan dulu.

“Aku tidak mau main hari ini, Bik. Aku mau di rumah saja dengan Nenek” Ujarku. Bibik Sum mengangguk sambil menggantungkan baju sekolahku, lalu ke luar lagi bergabung dengan teman-temannya. Rumah sepi. Hanya suara tampah para pekerja terdengar berdetak-detak saat mereka menampi biji kopi. Aku tidak mendengar suara adik dan ibuku. Kupanggil-panggil mereka. Hening. Aku langsung naik ke lantai dua. Barangkali mereka ada di sana. Dari balik gorden kamar, aku melihat nenek Kam sedang tidur. Nyenyak sekali. Sesekali aku melihat mulutnya bergerak-gerak seperti bersiul. Aku tidak berani mengusiknya.

“Udah pulang cung?” Aku terperanjat. Nenek Kam menegurku dengan mata masih tertutup. Aku langsung menghampirinya dan mencium tangannya.

“Mata Nenek terpejam, tapi kok tahu kalau aku pulang?” Tanyaku. Aku hanya mendengar gumamam yang tidak jelas sebagai jawaban. Kubisikan ke telinganya, megajaknya makan siang. Yang dijawabnya dengan lambaian tangan pertanda menolak. Mungkin juga maksudnya beliau sudah makan.

“Nenek jangan tidur telentang seperti ini. Miring saja arah tembok atau ke arah sini” Aku berusaha membalikan tubuhnya. Nenek Kam terkekeh-kekeh melihat tingkahku. Akhirnya beliau mengalah, dia miringkan tubuhnya.

“Kamu takut kalau aku mati kan? Setiap makhluk hidup pasti akan mati, Cung. Esok atau lusa Nenek, Bapak, Ibu, dan kamu sendiri akan mati. Hanya saja, Nenek kepingin mati di rumahmu” Ujarnya. Entah untuk kali keberapa kata-kata itu terlontar dari mulut nenek Kam.

“Kok Nenek mau meninggal di sini? Mengapa tidak memilih meninggal di dusun saja, Nek. Apa istimewahnya meninggal di sini?” Tanyaku. Padahal aku paling benci dan takut dengan kata mati.
“Aku senang di sini. Jadi kalau meninggal dalam aku ingin dalam keadaan senang pula karena ada cucuku yang akan menunggui dan berdoa untukku” Nenek Kam tersenyum kecil.

“Ngg, aku tidak ingin Nenek meninggal. Nenek tidak boleh meninggal” Aku meraih tangan Nenek Kam yang kurus. Beliau segera bangun lalu mengelus-ngelus rambutku.

“Iya,iya… Nenek ngg jadi meninggal. Tunggu kamu besar dan menjadi orang hebat” Katanya. Mendengar itu aku tidak jadi menangis.

Usai makan aku kembali ke atas menemui nenek Kam sambil membawa buku. Nenek Kam masih berbaring. Aku membuka-buka bukuku dan mengerjakan pekerjaan rumah di lantai. Tak lama berselang aku melihat nenek Kam tertidur pulas kembali, dan kembali mulutnya bersiul-siul. Lama kuperhatikan Nenek kam yang terbaring.

Meski sudah berusia lanjut, tapi aku tidak melihat rambutnya putih seperti nenek-nenek pada umumnya. Batinku, membayangkan yang baring di hadapanku adalah perempuan cantik yang menampakan diri dan mengatakan dirinyalah Relingin beberapa waktu lalu. Apakah dia ada di sini?

Belum sempat aku berpikir lain, nenek Kam yang tua renta berubah menjadi sosok yang cantik tengah tidur pulas dalam posisi yang cantik pula. Aku mengusap-ngusap mata untuk meyakinkan kalau aku masih di dunia nyata. Mataku tak berkedip sama sekali. Aku memandangi sosok perempuan cantik itu selekat-lekatnya. Tiba-tiba aku mencium aroma bunga memenuhi ruang kamar. Tapi sungguh aku tak bisa menerka aroma bunga apa? Kalau bunga melati, mawar, kenanga, kamboja, kemuning, sedap malam, aku sangat paham aromanya. Aroma ini sangat berbeda. Tapi aku yakin ini aroma bunga.

Tiba-tiba bulu kudukku merinding. Aku heran. Padahal ini siang hari. Matahari terang benderang. Mengapa suasananya jadi lain? Sosok nenek Kam kembali pada wujud aslinya. Perempuan cantik itu lenyap dari pandanganku. Belum selesai aku terpanah dengan pukauku, aku mengernyitkan mata menatap sosok samar seperti bayangan di ujung kaki nenek Kam. Lama-lama bayangan itu makin jelas bentuknya. Ternyata nenek Kam tidak tidur sendiri. Tapi ada sosok lain berada di ujung kakinya.

Meski terlihat samar, tapi tak urung membuat aku mundur, merapat ke dinding lemari. Kutenangkan dadaku yang bergemuruh. semakin lama makin jelas. Seekor singa berwarna putih tidur melingkar. Tak kalah pulasnya dengan nenek Kam. Dalam hati aku bertanya, siapa pula kawan nenek Kam yang turut tidur di sini? Apakah dia singa yang kulihat di perkampungan lereng gunung Dempu tadi pagi? Mengapa dia ke sini? Atau dia ini salah satu adik Nenek Kam? Pelan-pelan aku melihat wujudnya berubah menjadi perempuan kecil. Mataku terbelalak. Aku kaget sekali. Bukankah anak kecil ini yang berpapasan padaku dan nenek Kam tadi pagi ketika berjalan-jalan ke perkampungan di puncak Dempu? Aku sangat hafal wajahnya. Lagi-lagi aku berpikir keras mengingat-ingat pernah bersua di mana dengannya. Namun yang jelas aku merasa sangat dekat dan mengenalnya sejak lama. Siapa namanya? Apa maksudnya tidur di sini? Apa hubungannya dengan nenek Kam? Belum sempat aku bertanya banyak hal yang membuatku bingung, nenek Kam bergumam dengan mata masih terpejam.

“Suatu saat kamu akan tahu jawabannya. Yang jelas dia sangat dekat denganmu, Cung”

Aku melihat singa putih tepatnya gadis kecil yang sangat kupahami wajahnya itu mengeliat. Kali ini dia telentang. Sehingga semakin mudahlah aku menatap parasnya. Aku masih berpikir keras mengingat-ngingat dimana aku pertama kali bertemu dengannya meski nenek Kam mengatakan suatu saat aku akan tahu jawabannya. Buntu, aku tidak menemukan jawabannya sama sekali. Buku pelajaranku masih terbuka dan beserak di lantai. Pekerjaan sekolah belum kurampungkan. Belum hilang keherananku, dari balik pintu aku melihat seorang anak kecil berdiri menatap kami dengan senyum. Wajah kekanakannya nampak bersih dan tampan, Rambutnya pendek, senyumnya manis sekali. Aku mengira adik lelakiku. Ternyata bukan. Aku juga merasa pernah melihat anak Anak kecil ini. Tapi di mana? O iya aku baru ingat. Dialah yang berlari-lari kecil di bawah rumah panggung yang kulihat pagi tadi. Dia berwujud nenek gunung kecil dengan lorengnya yang halus. Siapa namanya?

Langkah kecilnya menuju bukuku yang berserak. Dia lipat dan dirapikannya. Kemudian diberikannya padaku. Aku menerimanya tanpa mampu mengucapkan apa-apa. Parasnya yang teduh membuatku terpukau. Aku kagum melihatnya. Saat tersenyum, berderet giginya yang putih tersusun rapi. Duh mata itu, bersinar-sinar seperti cahaya bintang. Indah sekali. Sekali lagi aku mengusap wajahku untuk memastikan jika aku tidak bermimpi.

Nenek Kam baru tiga hari menginap di rumah kami. Tapi aku merasakan benakku sangat padat berjejal berbagai peristiwa yang tidak pernah kuduga. Kadang aku bingung membedakan mana dunia nyata, mana dunia bunian? Berbagai macam hal yang tidak masuk akal, ternyata cukup melelahkan. Namun dorongan serba ingin tahu tahu membuatku menepis semua perasaan itu jauh-jauh. Apalagi melihat nenek Kam. Aku seperti melihat mata air yang tak henti mengalir.Nenek Kam adalah guru yang mengajariku banyak hal lewat peristiw-peristiwa yang sulit dicerna oleh akal sehat. Entah apa lagi yang akan beliau ajarkan padaku dengan hadirnya anak kecil dan perempuan yang parasnya sangat kuhafal ini.

Dari lantai satu aku mendengar suara orang mengobrol. Suara yang sangat kukenal, ibu dan Bik Sumi. Tak lama suara Ibu berteriak-teriak memanggilku. Aku mulai melangkah ke luar kamar tidak berani menjawab dengan suara keras. Aku takut Nenek Kam terbangun. Gadis kecil di ujung kakinya membuka mata. Lelaki kecil duduk di sampingnya. Tanpa mampu berpamitan aku ke luar kamar langsung menuju anak tangga. Dari atas aku melihat ibu mendongak ke atas sambil memperlihatkan tengkoluk dan kain sarung batik. Aku bertanya untuk siapa kain dan selendang itu? Kata ibu untuk Nenek Kam. Rupanya ibu baru pulang dari pasar membeli dua helai tengkoluk dan duah lembar kain batik. Aku langsung mengambilnya, lalu naik kembali ke lantai dua.

“Nek…Nek…” Aku mencari-cari nenek Kam. Aku bermaksud hendak memperlihatkan tengkoluk dan kain batik yang baru dibeli ibuku. Pasti nenek Kam senang sekali, pikirku. Aku mencari-cari beliau hingga ke teras beranda depan. Tidak ada. Batinku mulai kesal. Apa nenek Kam sengaja mempermainkan aku. Kemana pula gadis kecil dan anak lelaki yang tampan itu?

“Nenek..nenek dimana..” Aku berbisik. Aku seperti menghimpun kekuatan batin yang tiba-tiba muncul untuk mengetahui keberadaan nenek Kam. Mataku terpejam. Batinku fokus menuju nenek Kam. Dan benar saja, aku melihat nenek Kam ada di lantai satu di depan gudang kopi, berdiri di pinggir jalan. Tangannya melambai-lambai. Dua anak kecil berjalan pelan menuju ke hulu. Mau kemana mereka? Mengapa Nenek Kam tiba-tiba berada di lantai satu? Bukakah tangga ke bawah hanya ada satu tangga?Mengapa aku tidak melihatnya menuruni anak tangga? Harusnya beliau berpapasan denganku. Untuk sampai ke pinggir jalan, mestinya nenek turun tangga, melalui ruang tengah lantai satu, ke luar melalui pintu gudang kopi sekaligus loket kantor CV hasil bumi Bapakku. Dan itu tidak mudah, karena di gudang banyak sekali anak buah bapakku yang tengah menyutir biji kopi untuk beliau kirim ke Lapung dan Palembang. Untuk bisa ke luar, maka nenek harus mendaki gundukan kopi setinggi atap rumah. Berjalan bersusah payah karena kaki akan terbenam di biji kopi.

Aku masih berdiri diam dengan mata terpejam. Batinku masih mengawasi Nenek Kam. Entah apalagi yang akan beliau lakukan. Dua anak kecil itu semakin jauh. Nenek Kam membalikan badan. Aku mengira beliau masuk toko dan melalui gudang untuk kembali ke lantai dua. Aku membuka mata, dan berencana hendak menyusul Nenek Kam di bawah. Baru saja melintas di kamarnya, aku melihat beliau baring-baring sambil meguap di tempat tidurnya.

“Aduh! Nenek membuat aku kaget terus si. Tadi aku melihat Nenek di bawah mengantar dua anak kecil itu. Itupun tidak lewat tangga. Sekarang aku hendak menyusul ke bawah tiba-tiba nenek sudah ada di tempat tidur lagi.” Kali ini nadaku agak kesal. Aku seperti dipermainkan. Kain sarung batik dan selendang kuletakan di sampingnya.

“Eiii…apa ini?” Nenek Kam bangkit seketika. Diraihnya kain dan tekoluk di sampingnya. Lalu dibukanya dengan mata bersinar-sinar. Ekspresiku berubah ketika melihat cahaya kegembiraan wajah nenek Kam.

“Bagus sekali, Cung. Ini untuk Nenek? Semua?” Tanyanya sembari memeluk kain dan tengkoluk ke dadanya. Kujawab dengan anggukan. Kain dan tengkoluk dibentangkannya lebar-lebar, lalu dilipatnya kembali.

“Pandai sekali ibumu memilih corak , nenek suka keduanya. Tengkoluknya warna putih dan kuning, ada bordirannya. Harganya pasti mahal. Sampaikan terimakasih dengan ibu ya” Nenek Kam memasukan kembali kain dan tengulok ke dalam plastik. Ketika aku hendak melepas merek ‘cap cen’ yang melekat di kainnya, beliau melarang.

“Jangan dilepas Cung. Kain dan tengkulok ini mau Nenek lihatkan dengan anak bunting Kamsri. Dari musim ke musin, jangankan tengkulok atau kain empai . Baju bughuk piranti calau saja dia tidak pernah belikan” Kata Nenek Kam.

Sebenarnya aku hendak protes. Aku ingin melihat nenek Kam memakai tengkulok barunya. Demi mendengar itu aku diam saja. Bahkan membantunya menyimpan ke dalam tasnya.

Bersambung…