Kompor Berbahan Bakar Biji Karet dan Sawit

by -821 Views
by

Foto : Kompor Produk Sungai Rotan, berbahan bakar Biji karet dan Sawit.

Kabarkite.com – Muaraenim (19/5), Langka daan mahalnya minyak tanah serta kurang nya ketersediaan pasokan Gas elpiji 3 kg didesa desa membuat beberapa masyarakat mencoba bahan baku alternatif untuk memasak dengan menggunakan biji kelapa sawit dan biji para (buah karet) sebagai alternatif pengganti baku kayu gas dan minyak tanah. dan sekaligus membuat kompor sebagai piranti untuk memasak dengan bahan dasar biji sawit dan karet.

Teknologi Tepat Guna (TTG)  ini di ujicoba oleh Kecamatan Sungai Rotan kabupaten Muaraenim. Mengingat di wilayah tersebut, para petaninya rata rata/ mendominasi  dan berprofesi sebagai petani karet dan sawit, sehingga bahan bakunya sangat mudah didapat.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Sungai Rotan,  Bustomi, di sela-sela lomba Teknologi Tepat Guna tingkat kabupaten yang digelar di gedung kesenian Putri Dayang Rindu Muaraenim,Senin (19/5) mengatakan, timbul ide membuat kompor berbahan bakar buah para dan sawit, dikarenakan harga minyak tanah dan gas semakin mahal.

Namun kadang kala, minyak tanah dan gas sulit didapat. Berbeda, kalau penggunaan buah para dan sawit, bahan bakunya mudah didapat, dikarenakan di Kecamatan Sungai Rotan, berkebun karet dan sawit menjadi mata pencarian warga.

“Ide ini lah timbul, jadi kita buat kompor berbahan bakar biji para dan sawit. Disamping bahan bakunya melimpah, dan juga memanfaatkan limbah menjadi bermanfaat,”terang Bustomi.

Diakui Bustomi, pembuatan kompor tersebut termasuk mudah dan memerlukan biaya yang tidak mahal. Dia menjelaskan  jika menggunakan bahan almunium berkualitas baik  maka kompor akan bertahan lama.

“Satu keping almunium tebal dikombinasi almunium tipis, dapat menghasilkan 5 kompor,”jelas  Bustomi.

Masih menurut Bustomi, pemanfaatan kompor tersebut, selain dirinya sendiri juga dimanfaatkan Kecamatan Sungai Rotan.

” saya coba di rumah untuk memasak nasi, hanya butuh 10 biji sawit memasak seperempat kilo beras. Begitu juga, di kantor kecamatan saat memasak air dua liter hanya membutuhkan 6 buah sawit/para,”bebernya.

Jika penggunaan teknologi tepat guna ini berhasil kata Bustomi, akan disosialisasikan ke masyarakat Sungai Rotan. Sehingga masyarakat bisa beralih dengan penggunaan kompor berbahan bakar buah para dan sawit.

“Selain murah, penggunaannya ramah lingkungan, disamping memanfaatkan limbah buah para dan sisa-sisa sawit yang berjatuhan dari batang untuk dimanfaatkan menjadi energi elternatif menjadi tepat guna,”ungkap Bustomi. (jazzi)