Memandang Dua Sisi Aksi Mahasiswa di Depan Kantor Bupati Muratara

by -39 Views

Kabarkite.com, Opini (7/5) – Aksi Demo ratusan Mahasiswa di Depan Kantor Bupati Muratara, kemarin terkait transparansi anggaran penanganan Covid-19 sebesar 46 Milliar kemarin, Rabu (6/5/2020) ditanggapi oleh Hadiyatullah, tokoh pemuda Muratara yang juga aktif diberbagai organisasi seperti PMII, LMND dan lain-lain melalui opini yang dimuat di halaman facebooknya.

Hadi, Menanggapi aksi yang dilakukan Mahasiswa merupakan :

Pertama: Kesadaran kritis mahasiswa memang harus di bangun di tengah sistem yang menanam benih ke apatisme mahasiswa yang lebih di arahkan oleh kurikulum yang menyerahkan sistem pendidikan pada mekanisme pasar,(Komersialisi) kampus tidak lebih hanya menjadi mesin pencetak tenaga kerja yang berotientasi ijazah, sehingga meninggalkan peran mereka sebagai agen of change, agen of social control dan agen of development itu sendiri.

Sebagai masyarakat minoritas di Indonesia maupun dunia, Mahasiswa yang di anggap mampu dan lebih dari masyarakat pada umumnya, seharusnya menjadi ujung tombak dari sebuah perubahan besar, yang tidak harus terfokus pada konsenkuensi jurusan yang mereka ambil. Namun di tengah minoritas, mahasiswa yang peduli akan dunia luar kampus juga bersifat minoritas, seperti mahasiswa yang mengadvokasi buruh karena di PHK sepihak, Petani yang tanahnya di gusur, menolak komersialisasi, melawan penyakit KKN pada birokrasi pemerintahan dan lain sebagainya jumlahnya sangat sedikit di bandingankan jumlah mahasiswa yang ada, ya paling 10 persen dari yang ada, yang lainnya memilih menjadi mahasiswa Kupu-Kupu(Kuliah-Pulang) dan nongkrong. Sehingga gagap akan persoalan yang ada meskipun dengan bangga ber IPK tinggi, ahh sudalah terlalu panjang jika membahas soal mahasiswa jelimet kata si bung, belum lagi ada mahasiswa yang saling bully… Ngeri.!!

Langsung saja, aksi dari kawan kawan hari ini itu baik, ingin mengingatkan, jika(catat) tidak dalam situasi pandemi saat ini, di tengah pemerintah sedang gencar gencarnya bahkan terseok seok untuk menghentikan mata rantai penyebaran virus corona, yang melarang kita berkumpul kita malah melakukan aksi, ingat kawan, perbuatan baik pada waktu yang tidak tepat akan melahirkan ketidakbaikan itu sendiri, kawan saya faham apa yang kalian rasakan, kalian benar tidak ada yang salah dari tuntutan kalian yang saya baca statmen yang beredar luas di jagat medsos. Teruslah bangun daya kritis kalian dengan cara yang tepat, sabar dan terus berjuang dengan cara yang lain.!! Hidup Mahasiswa, Hidup rakyat!

Kedua: Ada kelompok yang menjustifikasi aksi mahasiswa sebagai aksi tunggangan kelompok tertentu, ini menarik untuk di kaji, apakah benar tuduhan itu atau malah maling teriak maling, menuduh atas dasar membela kelompok tertentu juga? Wallahualam.

Dulu saya sering dengar orang orang belajar tentang ciri ciri aksi yang di tunggangi,(baca. cuma dengar,) artinya saya tidak pernah belajar soal itu, di apa yang saya dengar itu, mengatakan bahwa ingin melihat aksi itu aksi tungganngan, titipan atau apalah namanya katanya harus di lihat dari beberpa sisi antara lain.

1. Isu dan tuntutan yang di angkat ada kaitan pada kelompok tertentu apa tidak?
2. Kepentingan dari aksi itu apa.?
3. Adakah lambang atau slogan terntentu yang mereka bawa?
4. Lain lain yang mengarah

Baiklah kita jawab.
Pertama. soal isu dan tuntutan, saya lihat dan cermati tuntutan mereka normatif tidak ada yang aneh, kalau tidak salah ada 3 tuntutan. Meminta kejelasan anggaran covid, meminta perhatikan tenaga medis yang menjadi garda terdepan melawan covid-19, dan meminta kerja sama setial elemen untuk menghadapi covid. Kira kira di isu mana yang membuat kita menuduh mereka tungganngan, apakah ada yang di untungkan dari 3 isu itu,? Benar ada, masyarakat, tenaga medis dan semua golongan.

Kedua. Kepentingan dari aksi? Kepentinngannya jelas. Kemanusian tidak ada yang lain.

Ketiga. Adakah lambang atau slogan terntentu? Yang di lapangan mungkin bisa menjawab ada apa tidaknya, namun saya tidak menemukan lambang tertentu apalagi slogan ya g mereka utarakan.

Keempat: sesuatu yang mengarah, ini juga tidak saya temukan.

Maka dari itu janganlah kita menjustifikasi atau mengukur idealisme kawan kawan kita mahasiswa di lapangan dengan emosi kelompok, karena belum tentu juga kita seidealis mereka, apalagi yang menuduh ini banyak yang berteriak memuji diri mantan MAHASISWA, ingat semua sarjana atau pernah kuliah, pasti mantan mahasiswa, namun tidak semua sarjana mantan orang- orang gerakan.!

Miris melihat pola pikir memandang sesuatu dari satu sudut pandang yang buta.! (Opini)

Salam,
Urang Dusun
Hadi Yatullah.