Mengukur Kekuatan Penantang dan Petahana Pada Pilkada Kabupaten Musi Rawas

by -3 Views

Kabarkite.com, Opini – Tahun 2020 adalah tahun yang pelik dan riuh bagi masyarakat, pelik karena krisis akibat wabah corona virus disease Covid-19 yang melanda dunia, tanpa kecuali Indonesia. Dan riuh karena agregasi penyebaran virus seiring dengan pelaksanaan pesta demokrasi tahun 2020 yang melibatkan 270 daerah diseluruh Indonesia, tanpa kecuali Kabupaten Musi Rawas.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang sempat terhenti lebih kurang tiga bulan akibat pandemi corona sudah kembali menggeliat ditandai dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota yang mengatur penundaan pemungutan suara 2020 akibat Covid-19 serta rencana Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akan melaksanakannya pada 9 Desember mendatang.

Sedikit flashback, kilas balik dinamika politik Musi Rawas yang semakin hari kian memanas. Di saat eskalasi krisis kesehatan menanjak, perburuan surat sakti tetap digencarkan. Hasilnya, cukup memuaskan. Karena pasca hard way dilalui pasangan calon (paslon) Akmaludin–Triono dari jalur perseorangan tertumbur mekanisme legal-formal, nyaris semua analis politik bertumpu pada ketiadaan paslon penantang. Tetapi politik sangat cair, dukungan partai politik mengalir tatkala terdapat aktor dan kepentingan yang besar di dalamnya. Kini, dengan beberapa tahapan pemilu dijalani dipastikan kedatangan paslon duo srikandi, Hj. Ratna Machmud–Hj. Suwarti (Ramah Berarti), hadir untuk menantang pasangan petahana H Hendra Gunawan–H Mulyana (H2G-Mulya).

Pemetaan Kekuatan Penantang dan Petahana Secara histori pertarungan paslon penantang dengan petahana sudah berlangsung lama, sejak pilkada 2015 keduanya sempat berduel hebat. Tetapi menarik pilkada 2020, wakil penantang merupakan musuh penantang waktu itu, karena wakil penantang (sekarang) merupakan wakil petahana, H Hendra Gunawan yang mendampinginya selama lima tahun sebagai wakil bupati Musi Rawas. Sehingga antar keduanya saling memegang ‘kartu AS’ satu sama lain.

Menjelang hari penetapan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Musi Rawas segala manuver dan intrik dimainkan, apalagi di tengah covid-19 perang hebat di media sosial tidak bisa dielakkan. Inilah informational warfare, perang informasi. Demi mencuci otak dan mencuri simpati masyarakat pemilih, pembunuhan karakter lawan politikpun dilakukan.

Seyogyanya di antara penantang dan petahana sama-sama mendapat kesempatan yang sama, termasuk kesempatan menang pada pemilihan nantinya. Kelebihannya ialah, jika petahana dipastikan tingkat popularitas dan elektabilitasnya tinggi karena sudah lebih dahulu melakukan sosialisasi dan berintegrasi (baca : Lay, Hanif, dan Rohman, 2017). Selain itu tentunya adalah hak privilege nya, karena masih menjabat. Sedangkan penantang adalah geografis, letak Musi Rawas diapit oleh dua kabupaten dan satu kota. Dua Kabupaten tersebut, yakni Musi Banyuasin dan Empat Lawang, yang mana orang nomor satunya adalah elit partai pengusung pasangan penantang. Sedangkan kota adalah Lubuklinggau, yang jamak dimafhumi di mana orang nomor satunya merupakan kolega dan pendorong terbentuknya poros baru koalisi penantang petahana di laga Musi Rawas tahun 2020. Dalam posisi terjepitnya petahana, tentu dinikmati oleh pasangan penantang. Suplai energi dan permodalan dari ketiga daerah pendamping menjadi ancaman. Tentu dalam hal ini bukan mengancam calon petahana saja, melainkan kedaulatan Kabupaten Musi Rawas sebagai daerah yang otonom, baik ekonomi apa lagi secara politik ke depannya meski diwaspadai bersama.

Membandingkan Apple to Apple Dalam posisi yang paling bijak adalah masyarakat yang harus disadarkan, karena baik dan buruknya daerah Musi Rawas akan dirasakan oleh masyarakat sendiri. Dengan demikian masyarakat harus diedukasi secara politik yang berkesadaran. Dalam menentukan nasib daerah sampai lima tahun ke depan, masyarakat dalam memilih harus cerdas menditeksi dini sebaran virus yang dapat mengerogoti daerah yang didiaminya dengan dapat mengukur dan menilai pemimpin yang akan dipilih nantinya. Sebab jika halnya melihat konten kampanye, pasti kedua pasangan akan berbicara yang baik dengan perihal yang bagus, karena narasi visi dan misi disusun dengan narasi yang melangit. Kesadaran memahami bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak lahir dari kebetulan atau ketidak sengajaan, itu basic needs, dasar menentukan pilihan. Karena karakter kuat yang tertanam di diri pemimpin akan tumbuh, berputik dan berbuah perubahan.

Mengukur kekuatan kepemimpinan tidak perlu melihat agama, ras, suku, warna kulit, atau jenis kelamin, karena demikian tidak concern dalam kaedah demokrasi yang bangsa ini anut. Karena pilkada adalah prosedur demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, yang esensinya untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, artinya kejernihan memandang dengan mengukur secara apple to apple kepemimpinan masing-masing calon secara berimbang dapat menjadi tolok ukur publik atas penilaian terhadap karakter kepemimpinan calon.

Penilaian diharapkan menggeransi obyektifitas dalam bilik suara dan menjamin tujuan pelaksanaan pilkada dapat diwujudkan. Pengukuran dimaksud secara sederhana dapat dilihat dengan rekam jejak pasangan calon. Kendati dalam bidang yang berbeda, tetapi melalui metode membandingkan apel dengan apel dan bukan apel dengan jeruk hasil karakter kepemimpinan masing-masing pasangan calon dapat diperoleh.

Seperti dari pasangan penantang, yaitu Hj. Ratna Machmud merupakan Direktur PDAM Tirta Bukit Sulap Lubuklinggau, maka dari posisi top leader tersebut dari corak kepemimpinan hingga ragam prestasi dapat dibaca secara seksama oleh masyarakat. Begitu juga dari sisi petahana, H. Hendra Gunawan, yang akrab disapa H2G mengawali karirnya di birokrasi hingga mengepalai beberapa kali dinas dan badan di Kabupaten Musi Rawas.

Sampai pada selanjutnya H2G terjun ke politik mendampingi Ridwan Mukti sebagai Wakil Bupati, dan pada periode berikutnya beliau kembali maju dan terpilih sebagai Bupati Musi Rawas. Dan dalam karir birokrasi dan politik H2G demikianpun sama halnya di atas, publik dapat mengukur dan menilai dari corak kepemimpinan dan aneka prestasi yang diukir olehnya.

Hal demikian juga, sepadan pada tataran wakil, di mana wakil penantang Hj. Suwarti mengawali karir sebagai tenaga kesehatan yang selanjutnya menjadi anggota legislatif dan pada pilkada 2015 terpilih menjadi Wakil Bupati Musi Rawas. Adapun dari sisi wakil petahana, H.Mulyana, di mana ia mengawali karirnya sebagai tenaga pendidik di lingkungan Diknas Kabupaten Musi Rawas. Dan selain itu, Mulyana juga mengabdikan dirinya selama puluhan tahun di sebuah koperasi hingga tumbuh berkembang dengan berbagai program seperti tabungan siswa (tasis), simpanan sukarela berjangka (sisuka) dan simpanan haji (sihaj/umroh), dsb. Maka dalam berbagai profesi dan posisi demikian antara wakil di setiap paslon dapat diukur dan dinilai sejauh mana pengabdiannya serta sebesar apa manfaat pengabdiannya untuk masyarakat dan pembangunan daerah.

Calon Pertahana Masih Diunggulkan
Di atas kertas potensi menang pasangan petahana lebih tinggi dikarenakan tingkat popularitas dan elaktabilitasnya jauh di atas penantang. Selain itu, petahana memiliki sumber daya dan akses politik yang lebih besar dibandingkan penantang, di tambah juga keberhasilan dalam melepaskan Musi Rawas dari jeratan daerah tertinggal, dan sumbangan prestasi membanggakan lainnya di saat menjabat, tidak dapat dilepas dari diri calon petahana.

Pada sisi wakil petahana juga tidak kalah dalam mengukir prestasi, di samping memajukan dunia pendidikan dengan menjadi seorang pendidik dan pengawas sekolah, Mulyana juga merupakan soko guru perekonomian Musi Rawas. Dengan menanamkan prinsip ekonomi kerakyatan beliau membantu masyarakat Musi Rawas dengan menumbuhkan ekonomi mikro, usaha kecil dan menengah. Pada titik ini menjadi bahan evaluasi untuk diinsafi pasangan penantang, apalagi banyak studi yang dilakukan tentang fenomena petahana yang menjadi peserta pilkada yang kembali terpilih. Dan di Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten Musi Rawas dari 2005, 2010, hingga tahun 2015 pasangan petahana tidak pernah dapat digoyangkan.

Memang ada beberapa kasus petahana tumbang ditangan penantang, namun itu terjadi pada daerah luar karena memang ada kejadian luar biasa dan dipengaruhi suplai energi dan modal luar biasa dari luar. Sekali lagi, hanya unsur dari luar atau unsur lainnya yang dapat membuat kejadian luar biasa yang mengancam stabilitas politik petahana. Jika itu terjadi, sejarah akan mencatatnya.

Hingga pada akhirnya tambah Prasetyo Nugraha, nasib Musi Rawas berada pada pilihan masyarakatnya. karena di panggung elektoral palu di tangan masyarakatlah yang akan menjadi hakimnya. Dengan torehan ini disemoga masyarakat dapat mengukur kualitas, kepemimpinan para kandidat paslon yang berlaga pada Pilkada tahun ini. diharapkan masyarakat dapat menilai siapa yang pantas memimpin Kabupaten Musi Rawas untuk periode lima tahun berikutnya. (*)

Oleh : Prasetyo Nugraha
Editor : Rudi Tanjung