OBITUARI GUS SHOLAH

by -7 Views

Kepergian Kiai Santuy (02-02-2020)

Kabarkite.com, Opini (3/2) – Di tengah hiruk pikuk politik di dalam negeri seperti kasus Ahok yang memeras energi. Begitu Pileg dan Pilpres. Gus Sholah memberikan statemen-statemen yang cenderung mendamaikan. Naluri politiknya sejuk dan tak berpihak, kecuali pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik dari aspek hukum maupun keselamatan dan kemaslahatan umat.

Tidak berpihak adalah hal yang sulit. Di tengah badai dan gelombang. Ketika sang kakak, KH Abdurrahman Wahid, naik pada puncak kekuasaan, Gus Sholah menempatkan diri sebagai pengkritik pertama. Guna meluruskan langkah sang kakak.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Sholah mewarisi kebijakan dan pemikiran sang kakek, Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari. Beliau sangat mengidolakan sang kakek. Terutama, di dalam menjaga keutuhan umat. Maka, tidak heran, ketika mendapat mandat untuk meneruskan tampuk kepemimpinan di Pesantren Tebuireng, Gus Sholah selalu mengusung dan menyematkan nama besar sang kakek. Mulai dari rumah sakit, museum hingga pusat kajian pemikiran. Berbeda dengan sang kakak yang cenderung liberal dan dikenal luas masyarakat di luar lingkungan keluarga dan organisasi NU.

Gus Sholah cenderung normatif. Sebagian kalangan menyebutnya sangat konservatif. Namun, dilihat dari kedekatan Beliau pada kakeknya dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, Gus Sholah mewarisi normativitas berpikir yang bercorak fiqih dan nalar Islam yang diusungnya.

Gus Sholah adalah seorang arsitek. Pertemuan antara nalar Islam dan garis-garis sketsa yang sering dibuat olehnya menjadi ciri khas dan karakter. Fisik dan konstruksi. Hal ini yang membuat berbagai kalangan, termasuk internal NU sendiri, Gus Sholah sering dipandang kaku dan mengisolasi diri.(*)

Gus Dilla (Alumni Tebuireng Jombang)