LMND : Peran Perempuan Dalam Dunia Politik

by

Lia Agustini (Ketua Eksekutif kota Lubuklinggau Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi – EK-LMND Lubukinggau )

Kabarkite.com, Opini (31/5) – Peran aktif kaum perempuan dalam dunia politik masih terhitung sangat minim mungkin karena pendidikan dan pemahaman tentang hal itu juga minim, maka tak heran apabila kaum hawa pada saat ini masih berasumsi bahwa “Politik itu buruk, politik itu kejam, politik  itu hanya milik kaum adam, politik itu hanya untuk menjerumuskan,”.

Politik bagi kaum perempuan seakan menjadi momok yg menakutkan, bagi mereka yang masih awam sering kali memaknai hal itu dengan hal negatif, padahal tidak demikian fakta nya.

Menyimak kondisi seperti ini, tidak heran kalau kaum perempuan dalam dunia politik masuk kedalam kelompok minoritas, karena memang membutuhkan nyali atau kekuatan mental untuk menghadapinya.

“Partai Politik” adalah organisasi tertinggi. Maka orang-orang didalamnya adalah orang yang punya keberanian dan nyali yang kuat untuk menghadapi semua perubahan kondisi dengan segala resiko, pada saat ini sangat minim sekali kaum perempuan yang berani berkecimpung didalam dunia politik. Semua itu terjadi karena pemahaman terhadap makna politik dan pendidikan politik bagi kaum perempuan yang masih sangat minim.

Pemahaman kaum perempuan penting untuk diangkat kepermukaan umum, tujuanya tidak lain untuk membangkitkan motivasi diri dan dapat terlibat langsung secara aktif mengenal dunia politik secara mendalam. Mereka seharusnya berpacu memberikan hak suara supaya memiliki keberanian untuk mengemukakan pandangan dan pendapat dihadapan publik utamanya pada tatanan penyusunan kebijakan pemerintahan memperjuangkan hak-hak dan kepentingan kaum perempuan.

Peran perempuan dalam politik itu penting untuk memahami dan terlibat didalamnya, sebab dalam memutuskan tentang kebijakan penyelenggaraan pemerintah dan program pembangunan, perempuan merupakan bagian dari objek pembangunan, maka ia memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara untuk memainkan perannya, kaum perempuan mengambil bagian untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan, pemerataan serta berhak mendapatkan kesejahteraan hidup. Kalau kaum perempuan tidak ambil bagian didalamnya lalu siapa yang akan memperjuangkan kepentingan kaum perempuan, karena yang lebih mengetahui tentang kebutuhan pembangunan bagi perempuan itu Ya kaum perempuan itu sendiri.

Pentinganya beroganisasi  bagi kaum perempuan agar mengerti dan paham sehingga ketika terlibat dalam dunia politik mereka punya pengetahuan yg cukup tentang kondisi masyarakat dan bagaimana memecahkannya, sejarah masyarakat kita yang msih terkukung budaya patriarki akan menjadi acuan utuk membaca situasi politik khusunya posisi perempuan dlm ranah politik.

Tetapi sangat di sayangkan realitanya pada saat ini kaum perempuan yg berada di legislatif lebih mementingkan kebutuhan partai dari pada memperjuangkan kepentingan kaumnya. maka tidak salah jika persoalan kaum perempuan tidak pernah selesai.

Minoritasnya kaum perempuan di dalam dunia politik hendaknya di manfaatkan sebaik-baiknya oleh kaum perempuan yg telah berada di dalam legislatif, jangan hanya mementingkan kebutuhan partai semata tetapi harus lebih memikirkan kepentingan atau kebutuhan dari kaum perempuan itu sendiri.

Saya berharap agar masyarakat dapat mengontrol dan memberi masukan-masukan sesuai dengan yang diharapkan, dan untuk kaum perempuan yang telah mendapatkan jenjang karier atau berhasil duduk menjadi anggota legislatif jangan sampai melupakan kodrat sebagai perempuan, jangan sampai muncul dilema-dilema baru dalam kehidupan rumah tangga karena tidak bisa memilah kepentingan dan membagi waktu.

Kuncinya harus percaya diri, karena dengan memiliki rasa percaya diri maka akan ada gagasan yang dapat menambah ilmu dan menggali ilmu diluar yang kita miliki. Tidak ada alasan lagi bagi pergerakan perempuan untuk terlibat dalam perjuangan menuntaskan revolusi nasional. Tidak ada alasan bagi kaum pergerakan secara umum untuk mengabaikan peranan kaum perempuan dalam perjuangan pembebasan nasional. Soekarno menggambarkannya sebagai “dua sayap dari seekor burung” dalam perjuangan pembebasan nasional. Sebab, tidak ada pembebasan perempuan Indonesia tanpa pembebasan nasional, dan pembebasan nasional tidak mungkin dituntaskan tanpa pembebasan perempuan.(*)