Potensi Prudes Karet dan Belanja Masalah

by -3 Views

Kabarkite.com, Opini (20/6) – Dalam mendukung upaya pemulihan ekonomi di fase New Normal pada semester 2 dan tahun 2021 di Sumatera Selatan. Catatan ini memperkuat tulisan H. Sugeng Hartadi (mbah Sugeng), ketua Asosiasi UPPB Nasional, “Simalakama Petani Karet Indonesia”

Ada 2 (dua) hal pokok yang perlu di garis bawahi yaitu soal Potensi dan Belanja Masalah. Terkait
potensi karet Sumsel sama sama kita ketahui bahwa Sumsel adalah penghasil karet papan atas di
tanah air. Kapasitas Produksi 1,08jt ton/tahun dan menyerap tenaga produktif pedesaan sebanyak
576.139 KK. Potensi pasar memenuhi Kebutuhan industri di As, Tiongkok. Untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut antara lain adalah dengan memaksimalkan, mendirikan dan merevitalisasi
peran UPPB menjadi Unit Usaha BUMDes dan atau BUMDes Bersama untuk menjamin, menjaga
kualitas dan mutu bokar dan edukasi secara terus menerus.

BELANJA MASALAH, meminjam istilah Gus Menteri Desa PDTT, untuk memberi spirit optimisme desa
membangun Indonesia, mamandang suatu masalah sebagai sebuah potensi untuk berinovasi.

Data yang di rilis Dinas Perkebunan Sumsel juli 2019 menyebutkan produksi karet Sumsel merosot
pasca gugur daun yang berdampak sekitar 583 ribu ton tiga bulan pertama di tahun 2019.
Sebelumnya, sepanjang 2017 sampai 2019 produksi karet petani berkisar 971 ribu ton.

Ada tujuh kabupaten yang merupakan sentra karet Sumsel terserang gulma yaitu Banyuasin seluas
600 ha, Musi Banyuasin 600 ha, Muara Enim 600 ha, Ogan Komering Ilir (OKI) 500 ha, Ogan Ilir 600 ha, Musirawas 600 ha dan Ogan Komering Ulu (OKU) 500 ha.

Menurut mbah Sugeng, Gulma, Inang Jamur Akar Putih disebabkan replanting secara manual hanya dengan ditebang tidak sampai mengangkat hingga akar. Cara Land clearing seperti itu mengkonfirmasi kepada kita faktor lemah nya modal kerja dan usaha kaum tani.

Oleh sebab itu saya memyarankan Belanja Masalah tersebut mesti menjadi rumusan penting untuk di bahas pada forum musyawarah perencanaan dan rapat rapat baik di pusat hingga desa pada semester 2 Juli – Desember, serta masuk dalam skema pemulihan ekonomi pasca pandemic covid19.

Dari mana kita mulai? VALIDASI DATA Perencanaan yang baik mesti di dukung oleh kualitas data
yang valid dan terverifikasi serta mendapat legacy karena akan menyangkut politik anggaran.

Untuk itu saya menyarankan langkah sinergi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, pemerintah desa
dengan dukungan kolaborasi antara kelompok tani, UPPB/BUMDes, UPTD terkait, perguruan tinggi, CSR untuk melakukan pemutahiran dan validasi data antara lain yaitu data status kepemilikan lahan,
luas areal perkebunan karet rakyat per KK, kapasitas produksi per bulan, jumlah penyadap, luas atau
jumlah batang yg masuk fase replanting, dukungan regulasi, perizinan, kebutuhan modal kerja per
tahun, modal tanam, dll.

Estimasi waktu pengerjaan validasi data Juli – September 2020 sehingga dapat menjadi masukan
kepada pemerintah baik untuk perubahan Rencana Kerja dan anggaran maupun untuk perencanaan
tahun 2021.

Demikian, sumbang saran untuk pengembangan ekonomi lokal desa berbasis produk unggulan desa
yaitu perkebunan karet.

Plg, 20 Juni 2020

EKA SUBAkTI, SE
TAM PEL TPP PROVINSI SUMSEL