Asap Karhutla di Palembang Tembus Level Berbahaya, Pemuda Cipayung Plus Turun Tangan Bantu BPBD dan Damkar

by -79 Views

Kabarkite.com, Palembang – Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di awal Oktober semakin memekat. Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, terpantau berada pada tingkat berbahaya.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan IQAir, angka pencemaran menembus level ekstrem di angka 1.010, yang berarti sangat berbahaya bagi kesehatan.

Sulit mencari akar masalah tunggal dari bencana tahunan ini. Selain faktor cuaca ekstrem dan karakteristik lahan gambut di wilayah Sumatera Selatan, data BNPB menyebutkan 99% Karhutla disebabkan oleh ulah manusia. Mulai dari pembukaan lahan dengan cara dibakar, kelalaian, hingga konflik lahan yang diduga melibatkan korporasi perkebunan.

Di tengah ancaman asap yang melumpuhkan kesehatan dan ekonomi warga, upaya penanggulangan secara kuratif harus terus diintensifkan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kini melakukan pendekatan komprehensif mulai dari strategi promotif, preventif, hingga rehabilitatif.

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Provinsi Sumatera Selatan, secara resmi menggandeng aliansi mahasiswa Cipayung Plus untuk memperkuat penanganan di lapangan.

Kolaborasi lintas sektor ini dibentuk sebagai upaya partisipatif atas meluasnya sebaran titik api (hotspot) di sejumlah wilayah rawan. Sinergi ini menjadi kunci, mengingat kompleksitas penanganan karhutla yang membutuhkan pengawasan ketat, mulai dari pemadaman darat, operasi water bombing dari udara, hingga edukasi pencegahan langsung ke pemukiman warga.

Keterlibatan elemen pemuda ini mendapat sambutan dari Satgas di lapangan.

Perwakilan Satgas Karhutla Cipayung Plus yang juga kader Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sumsel, Erik Agusdiansyah, menegaskan keikutsertaan mahasiswa adalah bentuk komitmen moral.

“Langkah ini adalah bentuk komitmen konkret dari gerakan pemuda. Mahasiswa hadir tidak hanya untuk menyampaikan kritik maupun aspirasi terkait dampak buruk kabut asap bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga membawa solusi nyata dengan terjun langsung bergotong royong menangani karhutla di lapangan,” tegas Erik.

Melalui sinergi yang kokoh antara BPBD, Damkar, dan kelompok pemuda, diharapkan potensi kebakaran dapat ditekan sehingga risiko paparan kabut asap yang mengancam kesehatan dan aktivitas ekonomi dapat diantisipasi sejak dini.

Namun, penegakan hukum yang tegas dan kesadaran akan keseimbangan ekosistem adalah kunci utama agar bencana asap tidak terus berulang setiap musim kemarau. Peran partisipatif dan kontrol dari pemuda serta masyarakat menjadi penentu, tanpa itu bencana asap Karhutla akan terus menjadi langganan di Indonesia.(*)