Wani Piro Milih RT?

by -561 Views
by

image

*ilustrasi

Kabarkite.com – Lubuklinggau (16/5), Mental dan kesadaran warga dalam menggunakan hak pilihnya dalam menentukan calon pemimpin sudah sangat mengkhawatirkan. Buktinya pada proses demokrasi ditingkat pemerintahan terbawah, pun terindikasi juga menerapkan politik uang. 

Misalnya dalam pemilihan Ketua RT 09 Kelurahan Karya Bakti Kecamatan Lubuklinggau Timur II, dilaporkan warga bahwa salah satu timses kandidat ketua RT setempat, diduga door to door ke calon pemilih untuk membagikan sejumlah uang pada malam pencoblosan.

Hasilnya pun sangat signifikan, calon incumbent atas nama Bambang  yang diprediksi sebagai kandidat kuat bakal menang dalam pemilihan RT 09 Kelurahan Karya Bakti tersebut akhirnya tumbang.

Dari total 127 suara sah, Bambang meraih 47 suara dan kalah dengan selisih tipis tiga suara dari kandidat lain inisial EF yang sukses mendulang 50 suara. EF diduga menerapkan jurus ampuh memberikan ‘uang siraman’ pada malam pencoblosan.

“Sejumlah timses EF mendatangi rumah warga sebagai pemilih saat malam pencoblosan. Kami menduga mereka telah membagikan uang untuk mempengaruhi pemilih, besaran uang yang dibagikan Rp25 ribu per kepala keluarga (kk) atau mata pilih,” ungkap salah satu warga setempat yang minta namanya dirahasiakan.

Atas kasus itu, sumber tadi bersama warga setempat lainnya akan mengumpulkan bukti-bukti kecurangan politik uang dalam pemilihan Ketua RT tersebut.

“Kami akan melaporkan masalah ini kepada pihak berwenang, menuntut supaya dilakukan pemungutan suara ulang (PSU, red) karena EF diduga memberi ‘uang siraman’ kepada sejumlah kk,” ucap dia.

Secara keseluruhan, ia menyampaikan hasil pemilihan RT 07 Kelurahan Karya Bakti yakni Bambang (47 suara), Ridwan (17 suara), Asrul (12 suara), EF (50 suara) dan tidak sah (1 suara). Total suara sah sebanyak 126 suara dengan dengan total mata pilih (KK) 138 suara. Dengan demikian, ada 12 pemilih yang tidak gunakan hak suaranya.

Selain di Kelurahan Karya Bakti, politik uang juga diduga diterapkan salah satu kandidat Ketua RT 07 Kelurahan Mesat Jaya.  Kasusnya hampir serupa, kandidat kuat yakni calon incumbent dikalahkan dengan kandidat lain yang terindikasi menerapakan politik uang. Membagikan sejumlah uang dan 2 kg gula pasir kepada pemilih yang disasar.

“Ya, pemilihan RT 07 di Mesat Jaya dimenangkan kandidat yang berhasil mempengaruhi calon pemilih dengan uang. Tapi memang sudah payah, saat ini sudah banyak warga terkena ‘virus wani piro’. Mau gimana lagi,” kata salah satu warga Kelurahan Mesat Jaya.

Menurut dia, praktik politik uang termasuk pemilihan RT sekalipun sangat sulit dibuktikan. Sebab antara pemberi dan penerima seolah sudah saling membutuhkan. Keduanya bersepakat untuk saling menutupi.

Untuk diketahui, saat ini sejumlah RT pada beberapa kelurahan dalam wilayah Lubuklinggau sedang disibukkan dengan pemilihan RT. Bahkan di wilayah Kecamatan Lubuklinggau Barat II, pemilihan Ketua RT disana dilaksanakan secara serentak di setiap RT.(Jonif)